Buku EUGENE REWRITE (Sekuel… - Ellya Ningsih | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

EUGENE REWRITE (Sekuel Novel Elena)

    Deskripsi Singkat

    Dear Elena… Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku… Baca Selengkapnya...

    Rp 95.000 Rp 80.750
    -
    +

    Dear Elena…
    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.

    Dear Elena…

    Di hadapan Tuhanmu, yang kini adalah Tuhanku juga, aku tak perlu merasa bersikap kuat. Aku tahu, aku telah banyak bermaksiat mengumbar syahwat, tetapi hanya padamu hati ini tertambat. Maka, salahkah aku jika masih terus mengiba pada Tuhan kita, meminjam namamu dan menyebutnya diam-diam dalam doa? Ya, mungkin aku belum paham benar arti keikhlasan, agar bukan kau, tetapi hanya Allah yang menjadi tujuan.

    Ah, Elena.
    Adakah masa lalu kita belum usai? Atau pada akhirnya aku harus menyerah, menerima sosok baru yang kedatangannya tak pernah kutunggu, tapi ia begitu mirip denganmu? Entah di manakah jodoh akan bertepi, karena hidup ini terlalu sepi jika harus dihabiskan seorang diri.
     



    Keunggulan Buku

    Keunggulan

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU UB-289
    ISBN 978-602-418-193-3
    Berat 340 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 19 Cm/ 0 Cm
    Halaman 452
    Jenis Cover Soft Cover