Deskripsi
Seberapa jauh kau akan bertindak demi mendapatkan akhir bahagia selamanya?
Tak ada yang memahami patah hati lebih baik daripada Jacks, sang Pangeran Hati, dan untuk itulah Evangeline Fox membutuhkan bantuannya: membatalkan pernikahan kekasihnya dengan saudari tirinya.
Yang tidak Evangeline sadari, Jacks bukan berbahaya karena dia jahat, melainkan karena dia tidak bisa membedakan baik atau buruk. Dan, sudah terlambat bagi Evangeline untuk menyesali bencana macam apa yang dia sebabkan akibat permintaan egoisnya.
Jacks hidup abadi dengan kutukan mengerikan: siapa pun yang menciumnya akan mati. Dan, kini Evangeline berutang kepadanya. Tiga ciuman. Kapan pun lelaki itu inginkan. Dengan siapa pun yang lelaki itu tentukan. Yang tentu saja tidak sesederhana kedengarannya karena segala hal terkait Pangeran Hati, selalu melibatkan hati yang patah atau jasad yang mati.
Spesifikasi
| SKU | : | ND-494 |
| ISBN | : | 9786232423503 |
| Berat | : | 400 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 412 |
| Tahun Terbit | : | 2022 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Kira-kira, seberapa jauh kamu akan bertindak demi mendapatkan akhir bahagia selamanya?
Tak ada yang memahami patah hati lebih baik daripada Jacks, sang Pangeran Hati, dan untuk itulah Evangeline Fox membutuhkan bantuannya: membatalkan pernikahan kekasihnya dengan saudari tirinya.
Yang tidak Evangeline sadari, Jacks bukan berbahaya karena dia jahat, melainkan karena dia tidak bisa membedakan baik atau buruk. Dan, sudah terlambat bagi Evangeline untuk menyesali bencana macam apa yang dia sebabkan akibat permintaan egoisnya.
Jacks hidup abadi dengan kutukan mengerikan: siapa pun yang menciumnya akan mati. Dan, kini Evangeline berutang kepadanya. Tiga ciuman. Kapan pun lelaki itu inginkan. Dengan siapa pun yang lelaki itu tentukan. Yang tentu saja tidak sesederhana kedengarannya karena segala hal terkait Pangeran Hati, selalu melibatkan hati yang patah atau jasad yang mati.
Satu kata buat buku ini, PAGE TURNER! Dari awal, pembaca akan langsung dilemparkan ke inti cerita yang nantinya akan menghasilkan masalah-masalah baru lagi akibat keputusan gegabah Evangeline. Namun, jangan merasa kesal dulu dengan sikap Evangeline yang terlalu naif dan suka meromantisasi segala hal di beberapa BAB pembukaan, sebab salah satu kekuatan novel ini adalah dari perkembangan karakternya. Dimana dengan seiringnya waktu berjalan Evangeline menjadi lebih tangguh dan mulai berpikir secara logis kalau semua yang terjadi pada dirinya adalah hasil tipu muslihat Jacks, si Pangeran Hati. Kita bisa melihat pertumbuhan karakternya ketika pada satu titik Evangeline menyadari bahwa undangan untuk pergi ke Utara bisa saja hasil manipulasi Takdir.
Namun, bukankah Racun sudah memperingatkan Evangeline bahwa dia akan tertarik ke arah Jacks, mau tak mau? Bagaimana kalau yang seperti inilah yang Racun maksud? Bagaimana kalau ini bukanlah peluang Evangeline untuk meraih akhir yang bahagia, melainkan manipulasi Takdir terhadap perjalanan nasibnya? (Hal. 76)
Kini Evangeline mau tak mau bertanya: apakah pertunangan ini justru disebabkan oleh Jacks? Bagaimana jika darah yang Jacks pulaskan ke bibir Evangeline merasukkan daya sihir ke dalam ciumannya sehingga Apollo jatuh cinta kepadanya? (Hal. 170)
Sementara itu, Jacks ditampilkan sebagai sosok yang misterius. Kita tidak dapat menebak apakah Jacks penjahat berhati dingin? Atau sebenarnya pahlawan yang menyamar? Dirinya berada di area abu-abu. Tempat dimana segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jacks tipe karakter manipulatif, tapi sulit untuk dibenci. Mungkin, karena disatu sisi dia juga selalu berusaha untuk mengingatkan Evangeline untuk tidak perlu kasihan dan percaya padanya, sebab dia adalah seorang Takdir—dari awal bertemu pun Jacks memberikan kesempatan kepada Evangeline untuk segera kabur darinya. Selain itu, Jacks memiliki karisma yang kuat. Akan tetapi, disisi lain juga menyimpan kepedihan sehingga membuatnya tampak tak manusiawi.
‘’Kalau kau sedang mencari jalan keluar karena kau sudah sadar, aku tidak akan menghentikanmu.’’ (Hal. 24)
‘’Kau mengasihaniku?’’ Jacks tertawa, parau dan mengejek. ‘’Tidak usah, Rubah Kecil. Keliru kalau kau mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku bukan monster. Aku Takdir dan, bagiku, kau bukan apa-apa, kecuali alat yang bisa kumanfaatkan.’’ (Hal. 179)
Karakter-karakter pendukung di novel ini juga bukan sekadar tempelan belaka. Melainkan menjadi unsur penting dalam pengembangan cerita. Aku sendiri dibuat penasaran bagaimana latar belakang LaLa dan Chaos dan berharap Stephanie membuat cerita mereka di masa depan.
Hal yang menarik lainnya dari Once Upon A Broken Heart adalah penggambaran dunianya yang terasa sangat magical dengan sentuhan dongeng. Membuatku menyelesaikan buku ini hanya dalam 2 hari saja!
Novel ini juga menunjukkan bahwa harapan yang dibangun dari angan-angan sendiri bisa membutakan kita dari kebenaran. Harapan Akan Akhir Bahagia dan Cinta Sejati yang menjadi keyakinan Evangeline bukan hanya sebuah perasaan yang manis, tetapi menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahannya. Dimana Jacks memanfaatkannya sebagai alat, senjata, bahkan jebakan untuk dapat mengendalikan Evangeline.
- - -
Peran Pengasuhan Dalam Perkembangan Karakter Seorang Anak
Kepuasan dalam hidup merujuk pada bagaimana evaluasi diri seseorang terhadap tingkat rasa puas mereka dengan kehidupannya sendiri (Huebner, 1994; Ma & Song, 2023). Berdasarkan model bio-ekologi perkembangan manusia, situasi keluarga dan gaya pengasuhan memegang peran penting dalam mempengaruhi perkembangan emosi dan fisik seorang anak (Bronfenbrenner, 1979; Ma & Song, 2023).
Dalam novel ini kita bisa melihat Evangeline yang dibesarkan dalam kehangatan dan penuh suportif dari kedua orangtuanya tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan teguh pendirian. Dia tidak gentar untuk mengambil pilihan-pilihan yang mungkin bagi orang lain amat berisiko. Apalagi ibunya gemar sekali membacakannya dongeng sedari dia kecil. Terlebih lagi, kisah cinta orangtuanya sendiri pun bak negeri dongeng!
‘’Aku percaya bahwa kemungkinan yang ada jauh lebih banyak daripada sekadar bahagia selamanya atau tragedi. Akhir yang mungkin untuk tiap cerita sesungguhnya tidak terbatas.’’
Ibu Evangeline sering sekali mengulangi pendapat ini sehingga sentimen tersebut tumbuh di dalam diri Evangeline, berakar dalam-dalam di jantung keyakinannya. Inilah salah satu sebab di balik tindakan Evangeline meminum racun yang mengubahnya menjadi batu. Penyebabnya bukan karena Evangeline tak kenal takut atau karena dia teramat heroik; penyebabnya semata-mata karena Evangeline menyimpan harapan lebih banyak daripada sebagian besar orang. Jacks memberitahunya bahwa demi akhir yang bahagia, satu-satunya pilihan adalah angkat kaki; bahwa jika dia meminum racun, dia akan membatu selamanya. Namun, Evangeline tidak bisa memercayai itu. Dia tahu bahwa kemungkinan akhir untuk ceritanya tidak terbatas—dan keyakinan itu belum kunjung berubah. (Hal. 67)
Namun, dia dibesarkan untuk memercayai harapan dan dongeng serta macam-macam yang terkesan mustahil. (Hal. 78)
Maka dari itu sifat naif Evangeline sendiri pun menjadi cukup berdasar, sebab Evangeline dipenuhi imajinasi dan harapan yang besar akan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat terjadi dalam hidup. Bahkan ketika Evangeline menyadari bahwa kepergiannya ke Utara bisa saja hasil manipulasi garis takdir, dia memilih untuk tetap pergi. Semata-mata bukan karena dia bodoh, tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut untuk mencari akhir yang bahagia bagi kisahnya.
Cara terbaik untuk melindungi diri dari Pangeran Hati adalah dengan menolak tawaran untuk pergi ke Utara.
Kemudian, apa? Hal terbaik yang bisa terjadi, Evangeline akan terus bekerja di toko buku dan menahan napas tiap kali lonceng berdering. Prospek ini seketika terkesan mengenaskan alih-alih optimistis. (Hal. 77)
Itulah yang tidak dimiliki Marisol sehingga timbul rasa cemburu dihatinya, sebab ibunya selalu saja mengkritik tindak tanduknya. Membuatnya tumbuh menjadi sosok yang rendah diri. Agnes, ibunya, bahkan membenci kecintaannya akan kue. Dia selalu menginginkan yang hebat-hebat untuk Marisol dan menganggap memasak adalah hobi yang terlalu lazim.
Pola asuh yang negatif dan terlalu kritis yang diterapkan Agnes kepada Marisol bisa menyebabkan perasaan rendah diri (inferior). Kritikan yang dilontarkan terus-menerus atau menaruh ekspektasi yang tidak realistis akan berdampak pada harga diri anak (Shen dkk, 2022; Tümlü & ?im?ek, 2021).
‘’....Lihat dirimu. Kulitmu. Rambutmu. Posturmu seperti pita basah. Belum lagi kantong matamu yang jelek itu. Seorang lelaki mungkin bisa mengabaikan reputasimu sebagai Pengantin Terkutuk kalau kau setidaknya indah dipandang, tapi aku saja tidak sanggup melihatmu—‘’ (Hal. 82)
‘’Kau memiliki banyak sekali kebebasan, kau begitu percaya diri, kau sangat teguh dalam menempuh jalan yang kau yakini. Kau bahkan tidak coba-coba menuruti nasihat yang kata ibuku harus kupatuhi—rambutmu kau biarkan berwarna aneh seperti itu dan kau membicarakan dongeng seolah itu kenyataan, seolah semua orang memercayai hal serupa. Kau seharusnya dianggap sebagai paria, tapi orang-orang menyayangimu dan mencintai toko kecilmu yang ganjil. Ayahmu sudah tidak ada, tapi semasa hidup dia bangga sekali kepadamu. Aku Cuma memiliki ibu yang ingin aku duduk tegak dan kelihatan cantik. Tapi, aku selalu kurang cantik karena aku tidak bisa menarik perhatian peminang mana pun dan itu pulalah yang selalu ibuku ingatkan kepadaku, hari demi hari.’’ Marisol kepada Evangeline (Hal. 368-367)
Orang tua dengan kecenderungan pengasuhan perfeksionis seringkali menaruh harapan yang sangat tinggi pada anak-anak mereka dan menunjukkan toleransi yang rendah terhadap kesalahan, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis yang cukup besar (Hibbard & Walton, 2014; Smith dkk, 2019). Lingkungan seperti itu dapat menumbuhkan rasa kesepian dan pemberontakan, terutama selama masa remaja (Limburg, Watson, Hagger, & Egan, 2017). Namun, orang tua dengan kecenderungan pengasuhan perfeksionis juga cenderung berinvestasi besar-besaran pada anak-anak mereka—secara finansial, emosional, dan dalam hal waktu—yang dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan dan keberhasilan akademis mereka (Flett & Hewitt, 2002; Flett dkk, 2002; Vaala & Bleakley, 2015). Dualitas ini mencerminkan sifat “pedang bermata dua” dari pengasuhan perfeksionis (Luo, Li, & Xiong, 2025).
Alfred Adler, seorang psikiatrik berkebangsaan Austria mengatakan bahwa perasaan inferior bisa digunakan sebagai kekuatan dan alat pendorong untuk mencapai keunggulan. Ini merupakan respon positif untuk mengatasi perasaan tersebut agar tidak berkembang menjadi inferiority complex, karena menurut Adler unsur psikologis dasar neurosis adalah rasa inferioritas. Manusia dilahirkan dengan perasaan rendah diri dan tingkatnya bervariasi dari satu orang dengan yang lainnya (North American Society for Adlerian Psychology [NASAP], 2023).
DAFTAR PUSTAKA
Bronfenbrenner U. The ecology of human development. The ecology of human development. Cambridge: Harvard University Press; 1979.
Flett GL, Hewitt PL. Perfectionism and maladjustment: An overview of theoretical, definitional, and treatment issues. In Perfectionism: Theory, research, and treatment (pp. 5–31). American Psychological Association. 2002. https://doi.org/10.1037/10458-001
Flett GL, Hewitt PL, Oliver JM, Macdonald S. Perfectionism in children and their parents: A developmental analysis. In Perfectionism: Theory, research, and treatment (pp. 89–132). American Psychological Association. 2002. https://doi.org/10.1037/10458-004
Hibbard DR, Walton GE. Exploring the development of perfectionism: the influence of parenting style and gender. Soc Behav Pers. 2014;42(2):269–78. https://doi.org/10.2224/sbp.2014.42.2.269.
Huebner ES. Preliminary development and validation of a multidimen-sional life satisfaction scale for children. Psychol Assess. 1994;6:149–58.
Limburg K, Watson HJ, Hagger MS, Egan SJ. The relationship between perfectionism and psychopathology: a meta-analysis. J Clin Psychol. 2017;73(10):1301–26. https://doi.org/10.1002/jclp.22435.
Luo Z, Li H, Xiong Y. The double-edged perfectionist parenting: an examination of its impact on adolescent internet gaming addiction (IGA). BMC Psychol 2025;13(1033). https://doi.org/10.1186/s40359-025-03366-9
North American Society for Adlerian Psychology. (2023). Alfred Adler. https://www.alfredadler.org/alfred-adler
Shen, H., Li, M., & Li, L. (2022). Influence of Social Exclusion on the Inferiority Feeling of Community Youth. Iranian Journal of Public Health, 51(7), 1576.
Smith MM, Sherry SB, Vidovic V, Saklofske DH, Stoeber J, Benoit A. Perfectionism and the five-factor model of personality: a meta-analytic review. Pers Soc Psychol Rev. 2019;23(4):367–90. https://doi.org/10.1177/1088868318814973.
Tümlü, G. Ü., & ?im?ek, B. K. (2021). The effects of psychodrama groups on feelings of inferiority, flourishing, and self-compassion in research assistants. The Arts in Psychotherapy, 73, 101763.
Vaala SE, Bleakley A. Monitoring, mediating, and modeling: parental influence on adolescent computer and internet use in the United States. J Child Media. 2015. https://doi.org/10.1080/17482798.2015.997103.
Novel ini benar-benar mengaduk emosiku, terutama saat Evangeline dituduh membunuh Pangeran Apollo. Rasa frustasi semakin memuncak ketika Jacks, sosok Pangeran Hati yang tampan dan memikat, yang perlahan merebut hati Evangeline—ternyata memanipulasinya demi membuka Pelengkung Valory.
Bersama Evangeline, aku dibuat kesal, malu, sekaligus gemas dengan kelakuan Jacks. Meski begitu, Jacks yang digambarkan sebagai pria menawan, jahil, tapi bikin aku salting, dan interaksi mereka berdua bikin aku senyum-senyum sendiri.
Plot twist-nya bertubi-tubi dan sukses menjaga ketegangan cerita, didukung oleh world building dunia fantasi yang kaya dan imajinatif.
Novel ini juga diakhiri dengan cliffhanger yang membuatku langsung ingin melanjutkan ke buku keduanya.
Kalau ngga salah aku beli buku ini di late 2022 atau kapan ya lupa tapi pokoknya aku beli ini karena covernya aja aslinya. Pas itu aku lagi hectic magang, KKN, putus ... (curhat)
Dan kayanya di awal 2022 itu aku udah lihat seberapa ramenya buku ini di luar negeri. Aku tadinya ngga tau sih. Aku cuma melihat seliweran art cewe rambut pink, terus ada artnya Tella sama Scarlett (tadinya aku belum baca Caraval, karena dulu mau baca takut vibes nya sirkus banget. Tidak badut fobia-able. Sebenernya ngga ada badutnya sih ternyata pas baca ... Definisi judge the book by its cover, emang.)
Nah actually aku ngga minat baca. Tapi cewe rambut pink ini gemes banget?! Terus ngga lama setelahnya ada PO OUABH. Akhirnya aku beli. Tanpa niatan baca karena waktu itu lagi hectic dan emg reading slump (tadi udh bilang).
Blablabla intinya aku baru baca ini di April 2023 di tengah-tengah lebaran dan skripsian. FYI, karena skripsiku kualitatif, jadi itu udah di tahap muak menganalisis 170 halaman verbatim wawancara sama subjek. Otakku udah meledak, meleleh, menangis saking muaknya. Lalu aku mikir, "Kayanya aku butuh refreshing deh. Aha akan aku baca buku yang baru aku beli itu!" Sebagai dorongan ngerjain skripsi aja. Niatnya ngikutin aturan yang dibuat oleh diri sendiri: Satu bab = Analisis 1 halaman transkrip.
1 Bab, 2 Bab, 3 Bab, aman. Begitu sampe di Magnificent North ...
"Hah skripsi? Kalo aku terlalu memaksa diri, nanti aku malah ngga bisa analisis. Dont be too har to myself. Kita tamatkan dulu buku ini."
Buku ini harusnya dikasih warning karena membuat kita (aku) prokrastinasi. Itu berbahaya.


