Percy Jackson #1: The Lightning Thief (Republish)
Deskripsi
Aku Percy Jackson.
Aku sudah dikeluarkan dari sekolah berkali-kali, sebagian karena aku penyandang disleksia dan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif), sebagian lagi karena masalah sepertinya suka sekali mengejarku ke mana pun aku pergi.
Yang lebih buruk lagi, aku ternyata demigod.
Kalau menurutmu memiliki orangtua dewata itu menyenangkan, kau salah. Sebagai demigod, kami harus menjalani misi dan menjadi pahlawan, yang berarti kami selalu diburu monster, dibenci oleh kebanyakan dewa, dan seringnya mati muda.
Siapa ayahku? Yang jelas bukan Zeus karena dia menuduhku mencuri petirnya dan agak terlalu berambisi ingin mengenyahkanku dari dunia. Dan, karena nasibku memang luar biasa buruk, aku cuma punya waktu sepuluh hari untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah sebelum para dewa berperang karena amukan Zeus. Dengan ramalan yang berkata, Dan, pada akhirnya, kau akan gagal menyelamatkan apa yang menurutmu paling signifikan.
Percy Jackson,
Sendirian di Kabin Tiga,
Perkemahan Blasteran
Spesifikasi
| SKU | : | ND-471 |
| ISBN | : | 9786232422537 |
| Berat | : | 340 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 14 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 352 |
| Tahun Terbit | : | 2021 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Kurang lebih itulah summary huru-hara yang dilalui Percy di buku pertama dari series ini.
Sebagai pembaca yang sebelumnya nggak ngikutin mitologi Yunani, menurutku world-buildingnya masuk kategori gampang dipahami soalnya konsepnya adalah para Dewa yang juga "beroperasi" di peradaban manusia. Hal itu bikin dunia ajaib di buku ini nggak sepenuhnya terpisah dari dunia manusia (misalnya Olympus ada di atas gedung pencakar langit dan tersebar monster-monster yang menyamar & berkeliaran di kota modern). Selain itu, hal-hal yang berkaitan dengan mitologi Yunani juga dikenalin lewat sudut pandang dan pengalaman Percy yang masih sama clueless & plonga-plongonya kayak pembaca.
Di buku ini, menurutku trope "the chosen one" nggak di-romanticize. Status Percy sebagai anak Poseidon alias salah satu Dewa Besar yang seharusnya nggak boleh punya anak justru adalah sumber MASALAH utamanya. Maka dari itu, digambarin dengan jelas gimana strugglenya Percy yang terus-terusan dipaksa keadaan buat nerima siapa dirinya, yang artinya hidupnya nggak bakal normal lagi.
Yang aku suka, karakter Percy tetep anak-anak yang merespon segala permasalahannya sebagai anak-anak: impulsif, gampang emosi, dan mostly trabasss aja dulu & mikirnya nanti belakangan. Dan walaupun Percy demigod (anak setengah dewa), dia juga canggung & kesepian pas pertama kali ditempatin di Camp Half-Blood. Dia juga capek ngejalanin quest yang nggak dia pengen. Dia nggak punya ambisi jadi pahlawan dan cita-citanya cuman pengen punya kehidupan yang normal & damai. Selain itu, Percy juga berani blak-blakan mengkritik para Dewa di buku ini atas kelakuan mereka yang kadang problematik, egois, dan mostly nggak bertanggung jawab sama anak-anak mereka. Yaaa... siapa juga yang nggak emoshie kalau hidup lagi ruwet-ruwetnya tapi malah ditambahin "required quest" to stop a war between immortal beings?
Alurnya menurutku lumayan sat-set dan bisa dibilang setiap konflik langsung diikuti sama penyelesaiannya. Interaksi trio Percy-Annabeth-Grover juga "hidup" dan nggak bikin bosen.
Overall, sebagai buku pembuka series, menurutku karakter-karakternya udah cukup kuat buat bikin pembaca emotionally attached sama petualangan mereka. Endingnya juga bikin puas walaupun jelas masih terbuka banget, dan tentunya bikin penasaran gimana trio Percy-Annabeth-Grover bakal berkembang, gimana hubungan Percy sama Poseidon alias ayahnya yang bikin dia jadi yatim pasif, dan seberapa jauh lagi dia bakal terlibat di tengah huru-hara para Dewa.
(And YES, i'm already invested in Percy's next mess <3)


