Buku Filsafat Kebahagiaan -… - | Mizanstore.com

Filsafat Kebahagiaan - Flashsale Merdeka Membaca


Rp 17,000

Deskripsi

Flashsale Merdeka Membaca Filsafat Kebahagiaan

 

Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya?

Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya.

Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati.

 

 

 

 

Pengantar Filsafat Kebahagiaan:
Jalan Menemukan, Memahami, dan Menikmati Kebahagiaan

 

Kebahagiaan merupakan unsur kehidupan yang diidamkan manusia, baik secara esensial maupun eksistensial. Tidak ada manusia yang tidak menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dipandang bernilai, sangat bernilai, bahkan paling bernilai oleh manusia dalam kehidupannya. Itulah mengapa menurut beberapa filsuf kebahagiaan dipandang sebagai tujuan dari tujuan atau puncak dari tujuan hidup manusia. Saat sudah mencapai kebahagiaan, seseorang diasumsikan tidak menginginkan apa-apa lagi.

Meskipun demikian, memahami dan menemukan hakikat kebahagiaan tidak sesederhana rangkaian kata-kata mutiara. Secara ontologis, bentuk dan jalan kebahagiaan setiap orang bisa berbeda-beda sesuai dengan visi, orientasi, dan konteks hidupnya. Secara epistemologis, kebahagiaan dapat melibatkan seluruh sisi inteligensi manusia, tidak hanya kenikmatan indriawi, namun ada kalanya menuntut ketepatan pemahaman rasional, kedalaman rasa, bahkan ketajaman intuisi dan kemampuan imajinasi. Secara aksiologis, kebahagiaan ternyata bukan hanya tentang perasaan puas dan menyenangkan, tetapi juga berhubungan dengan kualitas hidup secara keseluruhan, seperti kesejahteraan, kenyamanan, kedalaman, bahkan juga harmoni sosial dan alam.

Ihwal meraih dan menikmati kebahagiaan pun ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat, prasyarat, dan jalan meraih kebahagiaan telah banyak bermunculan dan menjadi bahan eksplorasi para filsuf sepanjang sejarah. Apakah kebahagiaan itu, ciri-ciri bahagia itu apa saja, unsur kebahagiaan itu melibatkan apa saja, bagaimana meraihnya, prasyarat apa yang harus dipenuhi untuk meraihnya, dan banyak pertanyaan lain senada telah diajukan oleh para filsuf tentang kebahagiaan ini.

Adu gagasan dan perdebatan tentang kebahagiaan merupakan salah satu tema perenial dan sejak lama telah menjadi perhatian banyak filsuf. Tema kebahagiaan ini menarik, selain karena kebahagiaan merupakan dimensi paling asasi dari kehadiran manusia di muka bumi, juga karena tema kebahagiaan ini melibatkan pandangan dan nilai-nilai hidup yang berbeda dari beragam tradisi hidup manusia.

Di antara perdebatan dan polemik tentang kebahagiaan ini dapat disebut misalnya:

  • Ada yang menganggap kebahagiaan lebih berhubungan dengan tercapainya keinginan, ada pula yang melihatnya lebih sebagai keadaan pikiran atau emosional.
  • Ada yang berpendapat bahwa ada standar objektif untuk kebahagiaan, seperti kesehatan fisik dan keamanan finansial, ada pula yang lebih percaya bahwa kebahagiaan adalah pengalaman subjektif yang bergantung pada persepsi dan interpretasi individu.
  • Ada yang berpendapat bahwa penderitaan adalah bagian alami dari kehidupan dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan nilai kebahagiaan, ada pula yang menuntut kita untuk mengurangi penderitaan sebanyak mungkin.
  • Ada yang memandang kebahagiaan pribadi harus diutamakan, ada yang lebih menekankan kebahagiaan kolektif atau masyarakat secara umum.
  • Ada yang berpandangan kebahagiaan tidak hanya bergantung pada faktor eksternal atau situasional, tetapi juga bergantung pada bagaimana individu memersepsikan dan mendekati kehidupan mereka sendiri.
  • Ada yang percaya bahwa kebahagiaan dapat seketika dinikmati terhadap apa pun situasi saat ini dengan sikap penerimaan positif dan rasa syukur, ada pula yang menganggap kebahagiaan itu harus melalui proses, perjuangan, dan pengorbanan.

Menyikapi tema yang menarik dan menantang ini, para ilmuwan, filsuf, dan bahkan agamawan seakan-akan berlomba merumuskan pandangan tentang kebahagiaan, sehingga lahir berlimpah konsep dan teori tentang kebahagiaan. Keragaman konsep dan teori ini, serta tidak mudahnya menyimpulkan secara tegas-definitif dan universal tentang apa itu kebahagiaan, menegaskan kenyataan bahwa hakikat kebahagiaan memiliki sisi misterinya sendiri.

Lain dari itu, dari sudut pandang tertentu dapat pula dikatakan bahwa kebahagiaan sering kali juga memiliki sisi paradoksnya sendiri. Ada banyak ilustrasi faktual yang menunjukkan indikasi karakter paradoks dari kebahagiaan, contohnya ketika seseorang menginginkan atau mencari kebahagiaan, tetapi tindakan atau keputusan yang dia ambil justru mengarah pada ketidakbahagiaan atau kekecewaan. Contoh lainnya: ketika seseorang menganggap bahwa dia akan bahagia di masa depan, tetapi justru dengan mengorbankan kebahagiaan di masa kini. Contoh lainnya lagi: ketika seseorang takut mengambil risiko atau takut gagal sehingga akhirnya berhenti mencari dan mengejar apa yang sebenarnya akan membuatnya bahagia.

Dengan pertimbangan pentingnya kebahagiaan sekaligus kesadaran banyaknya misteri dan paradoks tentang kebahagiaan itulah, buku ini hadir. Buku Filsafat Kebahagiaan ini pada hakikatnya memotret gagasan beberapa filsuf besar dengan filosofi-filosofi yang khas tentang kebahagiaan. Selain bermakna eksistensial sebagai salah satu rujukan bagi siapa saja yang mengejar dan ingin menemukan kebahagiaan, buku ini juga dapat berperan sebagai pengayaan wawasan dan pengetahuan bagi mereka yang ingin mengeksplorasi lebih dalam tentang apa dan bagaimana kebahagiaan. Tentu saja dua peran yang dimainkan dari buku ini pada akhirnya akan bermuara pada terminal yang sama, yaitu bagaimana seseorang dapat menemukan dan menikmati kebahagiaan dalam kehidupannya, tanpa terjebak dalam ambiguitas konsep dan paradoksnya.

Empat filsuf yang dibahas dalam buku ini mewakili belahan dunia dan tradisi filsafat yang berbeda, juga mewakili cara pandang yang berbeda pula terhadap kebahagiaan. Plato dari tradisi filsafat Yunani yang rasional-idealis, al-Farabi dari tradisi filsafat Islam yang rasional-religius, Imam al-Ghazali dari tradisi filsafat Islam yang religius-spiritual, dan Ki Ageng Suryomentaram dari Jawa yang arif-realistis, masing-masing dari mereka mengembangkan sebentuk filsafat kebahagiaan sesuai gaya berpikir masing-masing.

Bagi para peminat filsafat, tentu saja gagasan-gagasan para tokoh di buku ini merupakan khazanah yang tidak boleh dilewatkan karena merupakan bagian dari bangunan besar falsafah hidup sesuai dengan tradisi masing-masing, banyaknya misteri dan paradoks tentang kebahagiaan itulah, buku ini hadir. Buku Filsafat Kebahagiaan ini hakikatnya memotret gagasan beberapa filsuf besar baik Barat, Timur (Jawa), maupun Islam. Kekhasan masing-masing gagasan sekaligus juga mewakili kekhasan cara berpikir dan orientasi hidup masing-masing tradisi.

Meskipun masing-masing gagasan adalah anak zamannya dan buah ruang dan waktunya sendiri, filosofi, nilai, dan strategi kebahagiaan yang ditawarkan para filsuf tersebut dapat dikatakan universal dan lintas ruang-waktu. Masing-masing filosofi memuat kebenarannya dan akan sesuai dengan siapa pun yang memiliki orientasi dan visi hidup yang selaras dengan para filsuf tersebut.

Dalam hal pengayaan wawasan dan pengetahuan, pada banyak kesempatan sering juga saya sampaikan bahwa pengetahuan dan wawasan itu ibarat senjata atau alat yang menjadi andalan kita menghadapi ragam dan dinamika kehidupan. Semakin banyak senjata dan alat kita miliki, semakin mudah kita menyelesaikan problem-problem hidup yang kita hadapi. Kalau kita memiliki sendok, pisau, dan gelas, kita akan makan dengan sendok, mengiris buah dengan pisau, dan minum air dengan gelas. Namun, kalau kita hanya memiliki pisau, maka tidak hanya untuk mengiris buah, makan dan minum pun kita menggunakan pisau. Demikian pula kiranya cara terbaik kita menyikapi kekayaan ragam perspektif dan filsafat dalam buku ini. Dalam satu situasi mungkin kita memerlukan konsep kebahagiaan sebagaimana digagas Plato dan dalam kesempatan yang lain kita memerlukan konsep kebahagiaan sebagaimana ditawarkan oleh Ki Ageng Suryomentaram.

Buku ini pada awalnya adalah kajian rutin seminggu sekali yang diselenggarakan di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta bertitel “Ngaji Filsafat”. Karena berawal dari tindak tuturan, diksi, redaksi, dan narasinya tampak lebih simpel dan semoga lebih mudah dipahami. Semoga gaya pemaparan semacam ini dapat memupus stigma bahwa filsafat itu rumit dan sulit dipahami.

Pada akhirnya, ucapan terima kasih harus saya sampaikan kepada teman-teman dari Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta yang memfasilitasi terselenggaranya kajian tersebut, juga tentu saja kepada teman-teman dari Penerbit Mizan yang memfasilitasi terbitnya buku ini. Semoga semua lelah hingga terbitnya buku ini menjadi lantaran kehadiran berkah dari-Nya dalam hidup kita, termasuk yang membaca buku ini.

Yogyakarta, November 2023

Fahruddin Faiz

Spesifikasi

SKU  :  FLS-143
ISBN  :  FLS-143
Berat  :  300 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 2 cm
Halaman  :  288
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan