Deskripsi
Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya?
Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya.
Buku ini bakal memberi pencerahan bagi Anda yang mencari kebahagiaan sejati
“Buku ini mengurai dengan santai tetapi indah pencarian akar kebahagiaan
oleh para filsuf dan sufi yang paling melegenda baik dari Dunia Barat,
Muslim, maupun Jawa.”
—K.H. Husein Muhammad,
penulis Kebijaksanaan para Ulama, Sufi, dan Filsuf
“Kebahagiaan—barangkali itulah hal yang paling diburu manusia.
Buku ini memandu Anda ke arah penemuan kebahagiaan yang sejati,
bukan kesenangan fisikal/psikologis yang dangkal, apalagi hedonisme.
Sebuah buku yang penting ada dalam koleksi kepustakaan bacaan kita.”
—Dr. Haidar Bagir,
penulis Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan
Spesifikasi
| SKU | : | UB-505 |
| ISBN | : | 9786024413323 |
| Berat | : | 300 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 13 cm/ 21 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 288 |
| Tahun Terbit | : | 2023 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Paham bikin kita tenang, sedangkan tidak paham bikin kita galau. Wajar kalau jadi galau. Kadang yang bikin berat itu bukan masalahnya, tapi kita belum ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Kebahagiaan itu sederhana, tapi nggak selalu mudah. Fahruddin Faiz mengajak kita mulai dari satu hal penting "Kenali diri sendiri." Tanpa itu, makna bahagia akan menggantung di luar diri kita. Dari Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram, semuanya ngomong satu hal yang sama, kebahagiaan itu soal kenal diri sendiri. Nggak usah jauh-jauh, semuanya balik ke "aku" dan untuk mengenalnya semua butuh yang namanya ilmu pengetahuan.
1. Menurut Plato : Bahagia itu nggak harus dari hal fisik. Yang lahir dari jiwa dan pengetahuan itu jauh lebih awet.
2. Versi Al Farabi : Kebahagiaan datang dari kecerdasan bukan cuma “pintar”, tapi ngerti batasan, tau arah hidup, bisa milih mana yang bikin hidup selaras.... Lihat selengkapnya


