Buku Filsafat Moral - Fahruddin Faiz | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 72,250
15% Rp 85,000

Deskripsi

Kaidah Emas, “lakukan pada orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan”, adalah landasan moral yang mudah sekali diterima oleh semua orang di mana pun. Maka, moral, yakni soal benar/salah, sesungguhnya mudah dipahami secara intuitif. Tapi, mengapa moral menjadi isu paling krusial di tengah masyarakat kita?

Lihatlah fakta: Indonesia konon salah satu negara paling religius tapi masuk peringkat (ter)tinggi korupsi di dunia. Ratusan ribu orang setiap tahun mampu berhaji dan umrah, tapi problem kemiskinan begitu mengerikan. Betapa sulitnya mengajarkan kebersihan dan ketertiban di ruang publik, semisal membuang sampah sembarangan dan saling serobot di jalan raya. Mengapa orang kita lebih mudah tertib di Singapura daripada di negeri sendiri? Mengapa justru di negeri yang masyarakatnya mementingkan agama, moralitas seperti terabaikan?

Buku ini membuka mata kita bahwa isu moral tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Di situ ada faktor kesadaran pribadi, sistem hukum, konvensi sosial, adat dan kebiasaan, sistem pendidikan, sistem sosial, serta sistem keyakinan. Dari mana kita mengurainya?

 

 

 

 

Sudahkah Kita Bermoral?

 

Kebahagiaan adalah puncak tujuan hidup manusia. Salah satu jalan untuk bahagia adalah dengan hidup yang baik; dan hidup yang baik adalah hidup yang dijalankan dengan tata cara, tidak asal-asalan, dan tidak ngawur. Apa lagi yang dimaksud hidup baik dan bertata cara itu kalau bukan hidup bermoral? Bukankah kata moral itu sendiri berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata cara?

Secara normal, tidak ada orang yang akan membantah pentingnya moralitas dalam kehidupan. Nilai penting moralitas dapat ditemukan dalam dua dimensinya, yaitu dorongan jiwa untuk hidup baik dan nyaman secara individual maupun sosial; serta tanggung jawab sebagai makhluk berkesadaran untuk menciptakan atmosfer hidup di muka bumi yang adil, harmonis, dan sejahtera.

Moralitas hadir untuk memberikan panduan tentang perilaku yang benar, baik, dan sesuai-selaras. Kepastian dan keyakinan seseorang tentang norma-norma moral yang harus dijalankannya akan memudahkannya membuat keputusan yang tepat dalam berbagai situasi, baik dalam ranah personal, sosial, maupun profesional.

Dalam dimensi sosialnya, moralitas memainkan peran penting untuk membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain. Moralitas mendorong keadilan dan kesetaraan dalam interaksi sosial. Amanat moral memastikan bahwa semua orang diperlakukan dengan adil dan dihormati secara proporsional tanpa memandang perbedaan mereka. Dengan kata lain, moralitas membantu menjaga keseimbangan dalam masyarakat.

Dalam aspek individual, moralitas bersifat membentuk dan memberdayakan. Moralitas membantu dalam pembentukan karakter yang baik. Ketika kita hidup sesuai dengan nilai-nilai moral, hakikatnya kita sedang mengembangkan kualitas diri kita sendiri, seperti dalam aspek integritas, kejujuran, maupun empati. Moralitas memberdayakan diri kita untuk tampil sebagai agen kebaikan yang menjadi pendorong lahirnya tatanan hidup yang baik dan ideal.

Apabila sedemikian penting moralitas dalam kehidupan, pertanyaan selanjutnya adalah: “Apakah kita sudah bermoral?” Pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana kata “ya” dari mulut kita yang mungkin kita berikan secara normatif-otomatis. Jawaban dari pertanyaan ini nantinya akan berkaitan dengan definisi, sumber, dasar aturan, dan standar penilaian moral, serta problem aktual atau dilema moral yang kita hadapi.

Untuk menjawab pertanyaan inilah, para intelektual dan filsuf seakan-akan berlomba menawarkan beragam konsep dan teori tentang jalan hidup baik atau hidup bermoral. Ada yang bersandar pada norma-norma religius, ada yang menekankan suara hati nurani, ada yang mengedepankan empati, ada yang cenderung pada kesepakatan bersama, ada yang memenangkan kepentingan banyak orang, dan ada yang mengutamakan kesenangan dan keuntungan personal; bahkan ada pula tawaran-tawaran anti mainstream seperti Nietzsche yang menyarankan kebebasan kreatif manusia untuk membuat nilai-nilai sendiri tanpa bergantung pada nilai-nilai tradisional dan keutamaan-keutamaan konvensional yang sudah ada sebelumnya.

Apa pun pemikiran filosofis tentang hidup bermoral dari para pemikir dan filsuf tersebut, hakikatnya adalah satu ikhtiar untuk menuntun manusia hidup secara baik, meskipun asumsi dan persepsi tentang “yang baik” itu sendiri berbeda, sehingga ide yang dihasilkan pun beragam. Bagi kita selaku yang menelaah dan mengkaji pemikiran mereka, semua pemikiran-pemikiran tersebut posisinya memang “hanya tawaran” untuk kita pahami, kritisi, dan seleksi kesesuaiannya dengan kehidupan kita, lalu kita pilih untuk membentuk kehidupan ideal yang kita impikan.

Keuntungan menelaah dan mengkaji mode-mode hidup baik-bermoral dari para filsuf dan intelektual itu adalah: (1) semakin luasnya perspektif dan alternatif kebaikan yang mungkin bisa kita jalankan, (2) semakin mantapnya pemahaman kita terhadap kebaikan yang selama ini kita jalankan karena dukungan teori dan argumentasi yang mereka ajukan, (3) memudahkan dalam mengevaluasi perilaku moral kita selama ini dengan mempertimbangkan penjelasan-penjelasan mereka, (4) meningkatkan kesadaran moral kita dari level “pengikut” saja (anomi, heteronomi, maupun sosionomi) menjadi lebih mandiri (otonomi) dalam memilih dan menjalankan satu tindakan secara bertanggung jawab.

Buku ini merupakan representasi dari sebagian tawaran gagasan moral untuk hidup baik yang dimaksud. Dalam buku ini dipaparkan empat mode hidup bermoral dari tokoh dan tradisi yang berbeda.

Ada Lawrence Kohlberg, seorang filsuf, psikolog, dan pendidik yang terkenal dengan teori perkembangan moralnya. Konon, teori ini disusunnya antara lain dengan mewawancarai 72 anak, dan masing-masing anak dihadapkan pada dilema moral: apakah seorang pria miskin boleh mencuri obat untuk istrinya yang sekarat? Respons anak-anak menjadi dasar teori enam tahap perkembangan moralnya.

Ada Hans Jonas, filsuf kelahiran Jerman yang dikenal dengan Etika Tanggung Jawab-nya. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah The Imperative of Responsibility, yang berisi uraian tentang tanggung jawab moral manusia terhadap alam semesta dan generasi masa depan.

Ada Imam al-Ghazali, sang Hujjatul Islam yang begitu serius ingin membangkitkan kembali etos moral (akhlâq) dan semangat religius umat Islam via gaya hidup etis-sufistik, khususnya melalui karya masterpiece beliau, Ihyâ‘ ‘Ulûmiddîn.

Ada pula Sri Susuhunan Pakubuwana IV, seorang raja dari Kasunanan Surakarta yang dikenal memiliki komitmen agama yang kuat, tidak mau tunduk kepada Belanda, dan memiliki kecintaan yang tinggi kepada seni dan sastra. Di buku ini diulas salah satu karya beliau, Serat Wulangreh, yang hakikatnya berisi wejangan-wejangan moral kepada para bangsawan Jawa saat itu, meskipun ternyata masih sangat relevan untuk masa kini.

Terbitnya buku ini tentu saja tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, khususnya teman-teman dari Masjid Jendral Sudirman yang menjadi pelaksana Ngaji Filsafat yang merupakan tempat dibabarnya gagasan-gagasan para filsuf yang kemudian diterbitkan dalam buku ini; juga kepada teman-teman dari Penerbit Mizan yang dengan telaten memproses lahirnya buku ini hingga sampai ke tangan para pembaca. Semoga semua niat baik yang mengiringi lahirnya buku ini diwujudkan oleh Allah dan kehadiran buku ini membawa manfaat, maslahat, dan barakah untuk siapa pun yang berhubungan dengannya, langsung atau tidak langsung.  

 

Yogyakarta, Juni 2024

Fahruddin Faiz

Spesifikasi

SKU  :  UA-273
ISBN  :  9786024413507
Berat  :  250 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 1 cm
Halaman  :  252
Tahun Terbit  :  2024
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Lina Khoiriah Khoiriah
Lina Khoiriah Khoiriah 28-01-2026 21:10:07
Aku membaca buku ini pelan-pelan, bukan karena bahasanya sulit, tapi justru karena terlalu dekat dgn hidupku sendiri. Ada rasa tidak nyaman yang muncul (kenapa ya, aku sering tahu mana yang baik, mana yg salah, tapi tetap saja tergelincir mengulang kesalahan yang sama?) Di titik itu, aku merasa buku ini seperti sedang bercakap langsung denganku tanpa nada menghakimi, tanpa merasa paling benar. Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana yang diam-diam mengganggu. Fahruddin Faiz mengajak aku melihat bahwa persoalan moral bukan sekadar soal “tahu” dan “tidak tahu”. Kita sering tahu apa yg baik, tapi hidup sehari-hari, rutinitas, tekanan sosial, kebiasaan yang diwariskan, perlahan membuat nurani jd tumpul. Yang awalnya salah jadi terasa biasa. Yang awalnya mengganggu, lama-lama dianggap wajar. Dari sini aku sadar, moral bukan cuma urusan pribadi, tapi juga urusan lingkungan yg membentuk cara kita bersikap dan memilih. Pada akhirnya, buku ini tidak memberiku jawaban yg rapi, tp justru mengajakku berdamai dgn kegelisahan itu... Lihat selengkapnya