Buku ISLAMOFOBIA - Karen Armstrong | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

ISLAMOFOBIA

Deskripsi Singkat

Serangan-serangan terorisme mengerikan seperti yang terjadi di Paris dan San Bernardino oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam telah menimbulkan gelombang rasa permusuhan, ketakutan, dan kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam. Gejala yang lazim disebut Islamofobia ini telah menjadi hal normal dalam budaya populer di Amerika dan Eropa. Islamofobia… Baca Selengkapnya...

Rp 125.000 Rp 106.250
-
+

Serangan-serangan terorisme mengerikan seperti yang terjadi di Paris dan San Bernardino oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam telah menimbulkan gelombang rasa permusuhan, ketakutan, dan kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam. Gejala yang lazim disebut Islamofobia ini telah menjadi hal normal dalam budaya populer di Amerika dan Eropa.

Islamofobia sedang meningkat. Kaum Muslim telah disamaratakan dan disamakan dengan jenis ekstremisme militan dan terorisme yang dilakukan oleh sebagian amat kecil orang Islam, mengabaikan fakta bahwa sebagian besar korban justru adalah orang Islam sendiri. Ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan Islamofobia dan kebijakan domestik yang mengancam kebebasan sipil kaum Muslim. Tetapi, apakah yang menjadi penyebabnya?

Buku ini mencoba menelusur akar kemunculan ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat. Menampilkan analisis dan opini dari para pakar, seperti Karen Armstrong, John L. Esposito, Tariq Ramadhan, Imam Abdul Malik Mujahid, pembaca diajak untuk mendapatkan perspektif yang luas dan merenungkan tindakan yang dapat diambil untuk meredakannya.

Lebih dari itu, buku ini ingin mengajak setiap orang untuk menumbuhkan sikap positif dan penuh harapan ketika mempelajari agama lain. Harapannya adalah untuk mengembalikan sikap welas asih ke pusat moralitas dan agama, meningkatkan saling pengertian dalam hubungan antar-sesama.


Pengantar
dan Cara Menggunakan Panduan Ini

Dalam buku ini, Anda akan menemukan berbagai sumber informasi—ada yang menawarkan kesempatan untuk merenung, ada pula yang lebih bersifat preskriptif: berisi saran, tips, dan langkah praktis. Kami anjurkan agar Anda terlebih dahulu menelusuri secara sekilas seluruh isi buku ini untuk memperoleh gambaran tentang apa yang tersedia: ada kerangka kontekstual oleh Karen Armstrong; panduan bagi umat Muslim oleh Imam Abdul Malik Mujahid; ikhtisar Islamofobia oleh Barbara Kaufmann; dan sejumlah tautan ke berbagai situs internet yang disediakan oleh Council on American-Islamic Relations (CAIR), American Friends Service Committee (AFSC), Anti-Defamation League (ADL), dan lain-lain, yang banyak di antaranya dimaksudkan untuk digunakan oleh para pendidik. Akhirnya, Anda akan menemukan sebuah artikel renungan yang ditulis Abdal Hakim Murad, dekan Cambridge Muslim College, serta sebuah daftar yang berisi bahan-bahan yang bisa Anda rujuk untuk kajian lebih lanjut.

Setelah memperoleh gambaran umum tentang apa saja yang tersedia di sini, kami sarankan agar Anda meluangkan waktu membaca setidaknya satu dari artikel-artikel pendahuluan dalam buku ini. Lalu, gunakan panduan ini untuk bertindak. Satu-satunya hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk melawan Islamofobia adalah dengan tidak berdiam diri. Keberanian Anda berbicara akan memberanikan orang-orang lain untuk berwelas asih, dan bisa menghentikan para penghujat.

Kami mengundang Anda berbagi pengalaman dengan kami, bisa di halaman Facebook https://www.facebook.com/CharterCities/ ataupun dengan mengirimkan surel ke Charter for Compassion di contact@ charterforcompassion.org.

Dokumen ini akan terus diperbarui secara online (di jaringan internet). Anda dapat memperoleh pembaruan-pembaruan tersebut di sini: http://www.charterforcompassion.org/index.php/compassion-and-religion/ islamophobia-guidebook.[]


Apakah Islamofobia Itu?
Kita kerap menggunakan istilah-istilah tanpa menyimak etimologi (asal-usul)-nya. Ketika kami mendiskusikan Islamofobia1 dalam suatu konferensi jarak jauh (yang laporannya dapat diperoleh di: http://www.charterforcompassion.org/index.php/religion-spiritua lity-interfaith-reports-and-documents), beberapa peserta meminta semua yang mengikuti konferensi tersebut agar mempertimbangkan kata-kata yang kami gunakan ketika berbicara tentang Islamofobia—intinya adalah menghindari penggunaan bahasa agresif (misalnya, kata “serangan”, “pertempuran”, “medan pertempuran”, “perang”, dan seterusnya). Kemudian, seorang peserta, Linn Moffett, menulis bahwa “kita perlu berhati-hati dan terus-menerus menyadari kata-kata yang kita gunakan untuk merespons seluruh pesan lainnya yang disiarkan di berbagai saluran dan media; dan yang lebih penting lagi, dalam segenap napas kesadaran manusia, baik yang dinyatakan maupun tidak, sebab hal itu tetap akan muncul.”

Dalam kesempatan lainnya, Nancy Seifer mengutarakan bahwa respons Charter for Compassion untuk menangani Islamofobia telah membangkitkan luapan energi yang selama ini tersembunyi dan semoga dapat dikerahkan demi kebaikan. Ini terbukti dalam sebuah laporan, “Islamophobia in 2015: The Good, the Bad, and the Hopeful” (Islamofobia pada 2015: Yang Baik, yang Buruk, dan yang Berpengharapan), yang disertakan dalam buku panduan ini. Dia juga menyarankan agar kita bisa mulai menggunakan kata “pantang menyakiti” (“harmlessness”)—“sebuah istilah yang positif guna mengekspresikan kesadaran di balik prakarsa ini—yang bermakna mengakui kesatuan atau kesaling-terjalinan seluruh kehidupan dan, karenanya, menolak menyakiti bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh sekalipun”. Dia menekankan bahwa ajaran ahimsa dalam filosofi Jain Gandhi kerap dirumuskan sebagai mempraktikkan sikap pantang menyakiti.

Memang, sepatutnyalah kita mesti bersikap positif dan penuh harapan ketika kita mempelajari Islam, dan tentu juga ketika kita mempelajari agama-agama lainnya.

Dan tentu saja, tulisan di dalam Charter for Compassion (“Piagam Welas Asih”) itu sendiri membantu menunjukkan jalannya:

Kami … berseru kepada segenap umat manusia, lelaki mau­pun perempuan, agar mengembalikan rasa welas asih ke pusat moralitas dan agama ~agar kembali ke prinsip lama peradaban bahwa setiap penafsiran atas kitab suci yang menimbulkan kekerasan, kebencian, atau penghinaan tidak dapat diterima ~untuk memastikan agar generasi muda diberi informasi yang akurat dan santun tentang berbagai tradisi, agama, dan budaya lain ~agar mendorong penghar­gaan yang positif atas keragaman budaya dan agama ~agar menanamkan empati (berbela rasa) perihal penderitaan selu­ruh umat manusia, bahkan terhadap mereka yang dipan­dang sebagai musuh.

Istilah “Islamofobia”
Pusat Kajian Ras dan Gender Universitas California-Berkeley menawarkan definisi Islamofobia sebagai berikut.
Istilah “Islamofobia” pertama kali diperkenalkan sebagai suatu konsep dalam sebuah laporan “Runnymede Trust Report” tahun 1991 dan didefinisikan sebagai “permusuhan tidak berdasar terhadap umat Islam, dan, dengan demikian, ketakutan atau kebencian terhadap semua atau sebagian besar umat Islam”. Istilah ini diciptakan dalam konteks umat Muslim Inggris khususnya dan Eropa umumnya, dan dirumuskan berdasarkan kerangka “xenofobia” (ketakutan dan kebencian terhadap orang asing) yang lebih luas.

Laporan tersebut menunjuk pada sejumlah sikap yang lahir dari serangkaian pandangan berikut:

  • Islam adalah agama yang monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitas-realitas baru.
  • Islam tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya.
  • Islam adalah agama inferior dalam pandangan Barat. Ia adalah agama yang kuno, biadab, dan tidak rasional.
  • Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme.
  • Islam adalah ideologi politik yang buas.


Islamofobia adalah suatu ketakutan atau prasangka yang direkayasa dan dipicu oleh struktur kekuasaan global saat ini yang bersifat Eropa-sentris dan Orientalis. Ketakutan atau prasangka ini diarahkan pada isu ancaman orang-orang Islam”—baik yang hanya berupa kesan maupun yang benar-benar nyata—dengan mempertahankan dan memperluas berbagai kesenjangan yang ada di dalam hubungan ekono mi, politik, sosial, dan budaya, sembari melakukan rasionali sasi bahwa kekerasan perlu digunakan sebagai cara untuk melakukan “pembenahan peradaban” pada komunitas-komunitas yang disasar (umat Muslim atau yang lainnya). Islamofobia memperkenalkan kembali serta menegaskan kembali suatu struktur rasial global yang dengannya ke senjangan distribusi sumber daya dipertahankan dan diper luas.[]

Sumber: Pusat Kajian Ras dan Gender Universitas California-Berkeley: http://crg.berkeley.edu/content/islamophobia/defining-islamophobia

_________
1 Catatan editor: “Islamofobia” adalah pengindonesiaan dari istilah bahasa Inggris“Islamo phobia”, yang merupakan gabungan dari kata “Islam” dan “phobia” (ketakutan). Jadi, Islamofobia singkatnya adalah “ketakutan terhadap Islam”.
 

Tentang Karen Armstrong

Karen Armstrong

KAREN ARMSTRONG
Karen Armstrong adalah penulis sejumlah buku mengenai agama, di antaranya The Case for God, A History of God, The Battle for God, Holy War, Islam, Buddha, The Great Transformation, Jerusalem, serta memoar, The Spiral Staircase. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam empat puluh lima bahasa. Pada 2008, dia dianugerahi TED Prize Wish dan mulai bekerja sama dengan TED untuk mengembangkan Piagam Welas Asih (Charter for Compassion), diciptakan secara daring oleh masyarakat umum, dirancang oleh para pemikir terkemuka dalam Yudaisme, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Piagam itu diluncurkan secara global pada akhir 2009. Juga pada 2008, dia dianugerahi Franklin D. Roosevelt Four Freedoms Medal. Pada 2013, dia menerima hadiah Nayef Al-Rodhan untuk Pemahaman Antarbudaya yang pertama dari British Academy. Dan, pada 2014, dia mendapat penghargaan Educator's Prize by ISESCO (Islamic Educational Scientific and Cultural Organization) dari Yordania.

JOHN L. ESPOSITO
Editor The Oxford Encyclopedia of Modern Islam dan The Oxford History of Islam, serta pengarang The Future of Islam dan banyak karya lainnya yang diakui, John L. Esposito adalah salah seorang ahli Islam terkemuka dari Amerika.

ABDAL HAKIM MURAD
Abdal Hakim Murad adalah Dekan Cambridge Muslim College, Inggris, yang melatih imam untuk masjid-masjid Inggris. Pada 2010, dia terpilih sebagai pemikir Muslim paling berpengaruh di Inggris oleh Royal Islamic Strategic Studies Centre Kerajaan Yordania. Dia telah menerjemahkan sejumlah buku dari bahasa Arab, termasuk beberapa bagian dari Ihyâ’ Ulûm Al-Dîn karya Imam Al-Ghazali.
 
TARIQ RAMADAN
Tariq Ramadan adalah seorang ilmuwan Muslim terkemuka, dengan banyak pengikut, terutama dari kalangan anak muda Muslim Eropa dan Amerika. Kini, dalam buku pertamanya yang ditulis untuk khalayak luas, dia menawarkan sebuah biografi luar biasa tentang Nabi Muhammad, yang menyoroti ajaran spiritual dan etis dari salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

HEIDI ORAN
Heidi Oran adalah pendiri The Conscious Perspective, sebuah blog yang menyediakan konten pendidikan dan penyadaran tentang Personal Growth (Pengembangan Diri), Spiritualitas, dan isu-isu Kemanusiaan.

REED PRICE
Reed Price adalah konsultan konten lintas-media yang perusahaannya, @rveep, membantu organisasi nirlaba dan organisasi-bertujuan lainnya untuk menceritakan kisah mereka dalam format teks, gambar, dan video. Mantan jurnalis nasional ini juga memiliki pengalaman profesional yang luas di media sosial. Di antara kliennya: Charter for Compassion International, Island Volunteer Caregivers, dan Work Group for Community Health and Development di University of Kansas. Dia adalah koordinator komunikasi untuk Bainbridge Island/North Kitsap Interfaith Council di negara bagian Washington dan sudah lama menjadi anggota jemaat Eagle Harbor Congregational Church (UCC) di Pulau Bainbridge. Dia mengagumi musik Leonard Cohen, karya seni Wassily Kandinsky dan renungan-renungan karya Henri Fredric Amiel. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi rveep.com.
    
KARIN MILLER
Karin Miller adalah Wakil Presiden dan Penasihat Umum sebuah konsorsium besar di dalam industri hiburan. Aktif dalam komunitas pikiran, tubuh, dan jiwa selama lebih dari sepuluh tahun, Miller menjabat sebagai penasihat sukarela untuk Marianne Williamson dalam pembentukan Peace Alliance, dan sebagai Anggota Dewan Penasihat di dalam Alliance for a New Humanity, yang dipimpin oleh Deepak Chopra. Karin mendirikan Our New Evolution (ONE) untuk menghubungkan dan memberdayakan masyarakat dan proyek-proyek yang selaras dengan Nilai-Nilai Global—yakni, inti dari buku baru Karin, Global Values: A New Paradigm for a New World. Bacalah pengantar buku Karin Miller dan kunjungi situs www.OurNewEvolution.org untuk informasi lebih lanjut.
              
PAUL CHAFFEE
Paul Chaffee adalah seorang penerbit dan editor pada The Interfaith Observer (TIO), sebuah majalah internet bulanan yang mempromosikan budaya lintas agama yang sehat, yang dimulai pada September 2011. Dia pernah menjabat sebagai direktur eksekutif pendiri pada Interfaith Center di Presidio, tempat dia menjabat selama 17 tahun. Dia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Direksi pertama di United Religions Initiative selama enam tahun, sebagai anggota Dewan Pengawas dari the North American Interfaith Network (NAIN) selama sepuluh tahun, dan sebagai Duta Besar Parlemen untuk Parliament of the World’s Religions selama tiga tahun.




Keunggulan Buku

Islam adalah agama yang sering disalahpahami tidak hanya oleh orang luar,
tetapi juga oleh penganutnya sendiri. Buku ini mengupas akar kesalahpahaman itu sekaligus
menawarkan cara bagaimana menghadapinya. Buku ini penting untuk kita umat Islam,
agar respons kita terhadap Islamofobia tidak reaktif dan penuh kebencian
yang malah memperkuat Islamofobia itu sendiri.
—Irfan AmaLee
Co-Founder Peace Generation Indonesia

Resensi

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU UC-62
ISBN 978-602-441-055-1
Berat 420 Gram
Dimensi (P/L/T) 16 Cm / 24 Cm/ 0 Cm
Halaman 352
Jenis Cover Soft Cover
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW
15%
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW

Belum Ada Ulasan

Rp. 69.000 Rp. 58.650
Beli
Pidi Baiq
The Magical Balls
83%
The Magical Balls

Belum Ada Ulasan

Rp. 29.000 Rp. 5.000
Beli
KALISHA, DKK
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR
15%
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR

Belum Ada Ulasan

Rp. 98.500 Rp. 83.725
Beli
Alexandra Bracken
BAD ROMANCE
15%