Buku FIRE AND FURY… - Michael Wolff | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

FIRE AND FURY MENYINGKAP RAHASIA MEMALUKAN DI BALIK PEMERINTAHAN DONALD TRUMP

Deskripsi Singkat

Dengan akses luar biasa ke Gedung Putih pada era Trump, Michael Wolff menuturkan kisah dari dalam istana kepresidenan paling kontroversial masa ini. Sembilan bulan pertama kepemimpinan Donald Trump penuh dengan kegaduhan dan keterkejutan di seantero negeri. Dan kini, berkat aksesnya ke Sayap Barat, Wolff menghadirkan kisah menarik tentang cara Trump… Baca Selengkapnya...

Rp 79.000 Rp 67.150
-
+

Dengan akses luar biasa ke Gedung Putih pada era Trump, Michael Wolff menuturkan kisah dari dalam istana kepresidenan paling kontroversial masa ini.

Sembilan bulan pertama kepemimpinan Donald Trump penuh dengan kegaduhan dan keterkejutan di seantero negeri. Dan kini, berkat aksesnya ke Sayap Barat, Wolff menghadirkan kisah menarik tentang cara Trump menjalankan kekuasaan dengan keputusan yang selalu berubah dan cenderung berapi-api.
Dalam buku mencengangkan ini, Wolff menyajikan banyak detail baru tentang kekacauan di Ruang Oval. Antara lain:

- apa yang dipikirkan para staf tentang Presiden Trump?
- apa yang membuat Trump menyatakan dirinya disadap Presiden Obama?
- mengapa Direktur FBI James Comey akhirnya dipecat?
- mengapa Kepala Strategi Steve Bannon dan menantu laki-laki Trump, Jared Kushner, tidak bisa berada di ruangan yang sama?
- siapa yang sesungguhnya mengendalikan roda strategi pemerintahan Trump setelah pemecatan Bannon?
- apa rahasia untuk berkomunikasi dengan Trump?

Untuk kali pertama dalam sejarah, jabatan presiden AS membuat masyarakat terpecah belah sedemikian rupa. Fire and Fury menunjukkan kepada kita bagaimana dan mengapa Donald Trump menjadi biang perselisihan dan perpecahan tersebut.

Tentang Michael Wolff

Michael Wolff

Michael Wolff telah menerima banyak penghargaan atas karyanya, termasuk dua penghargaan “National Magazine Awards”. Sekarang menjadi kolumnis tetap untuk Vanity Fair, New York, The Hollywood Reporter, British GQ, USA Today, dan The Guardian. Dia pun menulis enam buku lain, termasuk buku laris: Burn Rate dan The Man Who Owns the News. Memiliki empat anak, saat ini dia tinggal di Manhattan.




Keunggulan Buku

Penjualan Terlaris #1 versi New York Times
Penjualan Terlaris #2 Kategori Memoar versi Amazon
Penulis merupakan jurnalis ternama yang telah mendapatkan National Magazine Awards dan Mirror Awards
 

Endorsement

Fire and Fury menjadi penting bukan hanya karena membahas Trump, tetapi juga menjadi produk dari budaya yang sama yang menghasilkan Trump: Inilah jurnalisme ‘realitas’, seperti halnya Trump merupakan karakter ‘nyata’.”
The Atlantic

“Ini bukan sembarang buku. Inilah sang buku. Jika hanya ada satu buku yang dibaca reporter politik Washington tahun ini … pastilah itu Fire and Fury … (Wolff) ibarat pengamat yang nakal dan jeli, yang dikenal mampu mendekati sasaran dengan taring menyeringai dan cakar terasah …. Perangkat penyampai karma yang sempurna.”
The Weekly Standard

“Buku Wolff dipenuhi dengan cercaan dan intrik, pengkhianatan dan penyelewengan.”
The Washington Post

“Penuh sensasi, laris terjual, dan menjadi bahasan setiap kolom politik, podcast, dan percakapan makan malam.”
The New Yorker

Fire and Fury telah menyulut ledakan, tak banyak buku politik sezaman yang pernah melakukannya ….”
The New York Times

“Di antara sekian banyak ironi kepresidenan Donald Trump, dapat ditambahkan fakta bahwa seorang pria yang tidak membaca buku telah membantu memicu sensasi penerbitan .... Kemampuan menggali sisi gelap, kekesalan, sinisme, dan kepekaan terhadap kelemahan manusia, terutama di kalangan orang kaya dan terkenal, membuat Wolff memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaannya.”
The Economist

“Fenomena budaya yang sungguh mendasar.”
The New Republic

“Kronik yang tak dapat disangkal lagi mengenai pemerintahan yang hanya dalam 1 tahun telah dilanda berbagai skandal dan krisis .... (Wolff) memberi pembaca pengalaman ‘hadir di sana’ tanpa beralih ke gaya penulisan dramatis yang berlebihan.”
The San Francisco Chronicle

“Capaian utama Wolff di sini bukanlah pengungkapan cerita yang menarik, melainkan caranya yang dengan terampil, memikat, sekaligus mengerikan dalam menggambarkan sosok-sosok yang tidak layak, tidak siap, dan tidak biasa berkeliaran di Gedung Putih pada paruh pertama 2017, serta konflik mendebarkan di antara mereka.”
Entertainment Weekly

“Buku itu menjadi penting karena menampilkan potret yang licik dan lucu dari sosok manusia palsu dalam lubang hitam ego yang tamak, yang hendak melumat seisi dunia.”
The Guardian

“Ditulis dengan sangat baik dan gamblang—dan niscaya menjadi rujukan utama periode 9 bulan pertama kepresidenan Trump.”
—Evening Standard

“Buku yang brilian ... mungkin pengaruhnya terhadap kepresidenan Trump serupa dengan pengaruh biografi Putri Diana karya Andrew Morton pada 1992 terhadap keluarga kerajaan.”
—Dominic Midgley, Daily Express

“Sulit untuk mengingat kapan kali terakhir ada buku yang berdampak besar terhadap berita harian seperti halnya Fire and Fury, laporan dari sudut pandang jurnalis Michael Wolff selama setahun di dalam Gedung Putih era Trump. Mengerikan, menggelikan, dan sangat menarik.”
—Tim WalkerIndependent

“Paparan yang mengusik Gedung Putih era Trump ... buku ini merangkum semuanya dalam narasi yang memukau, dengan kebenaran langsung bersumber dari lingkaran dalam presiden sendiri yang memalukan. Jubah sang kaisar sudah tanggal, walaupun kini semua menghilang.”
—Andrew SullivanSunday Times

“Uraian tak terlupakan tentang keganjilan mengerikan bernama Trump. Belum pernah ada yang sedemikian jernih memotret ‘enigma, teka-teki, dan pengganggu’ ini, yang tidak ingin menjadi presiden dan merasa takut ketika mendapati dirinya terpilih menduduki jabatan tersebut. Apa pun yang terjadi pada Trump, inilah buku yang akan dikenal sebagai rujukan tentang salah satu sosok menentukan pada zaman kita.”
—John Gray, New Statesman

“Wolff (yang juga menulis Television Is the New Television) menghadirkan pandangan orang dalam berkaitan dengan disfungsi ekstrem pemerintahan Trump lewat buku menarik yang mengguncang kenyataan ini, berdasarkan ratusan percakapan yang dilakukan selama 18 bulan, termasuk dengan sebagian besar staf senior Trump. Dia memulai dengan menunjukkan bagaimana benih pemerintahan yang kacau ditabur selama masa kampanye, ketika hampir tidak ada yang membayangkan Trump akan berhasil. (Istrinya, Melania, menjadi salah satu pengecualian.) Wolff kemudian membawa pembaca menyaksikan kegaduhan pada 8 bulan pertama kepresidenan Trump, termasuk pidato bertele-tele di hadapan staf CIA, ketika Presiden mengatakan AS harus ‘menjaga’ minyak Irak; pendekatan sederhana untuk memberlakukan larangan perjalanan bagi imigran dari negara berpenduduk mayoritas Muslim; pemecatan Michael Flynn dan James Comey; dan kepergian para pejabat penting, termasuk penasihat Steve Bannon. Wolff merangkai narasinya bertumpu pada kecaman terhadap Presiden dari orang-orang yang bisa dibilang memiliki akses di lingkaran kekuasaan: mantan Deputi Kepala Staf Gedung Putih, Katie Walsh, menyatakan bahwa upaya memahami Trump itu ‘seperti mencoba mencari tahu keinginan seorang anak kecil.’ Dan, asisten politik Trump, Sam Nunberg, mengatakan, ‘Apakah Trump orang yang baik, pintar, atau cakap? Saya bahkan tidak tahu.’ Meskipun penggunaan sumber-sumber anonim untuk ‘latar belakang cerita’ oleh Wolff dapat membuat pembaca meragukan keakuratan sejumlah detail, laporan mencengangkan ini dipastikan akan tetap menjadi pembicaraan hingga beberapa waktu mendatang.”
—Publishers Weekly

“Laporan menarik dari sudut pandang pengamat yang cerdik di taman bermain yang mengalami disfungsi, yaitu Gedung Putih-nya Trump. ‘Apa itu ‘kulit putih sampah’?’ tanya seorang model kepada Trump. Dia menjawab, ‘Mereka sama seperti saya, hanya mereka miskin.’ Tentu ada rasa penasaran tentang potret buruk para penghuni Gedung Putih saat ini seperti yang tertuang dalam ulasan Wolff ini, yang menurut penulisnya disusun berdasarkan percakapan dengan Presiden dan staf seniornya dan dilengkapi ratusan jam data rekaman. Mengingat banyaknya kubu yang bersaing di Sayap Barat, Wolff menambahkan, tidak ada yang benar-benar mendukung dia (‘Presiden sendiri mendukung langkah ini,’ katanya), tetapi juga tidak ada yang tegas mengatakan tidak. Hasilnya mengejutkan, kubu yang bersaing itu tidak hanya iri satu sama lain, tetapi juga tampak begitu keji secara karakter. Yang paling agresif, menurut catatan penulis, adalah mantan asisten Steve Bannon, yang menggambarkan Trump sebagai ‘mesin sederhana’ yang beroperasi lewat sanjungan dan umpatan. Sementara itu, dia menyatakan, ‘Saya adalah pemimpin gerakan nasional-populis,’ seraya menegaskan bahwa Trumpisme akan baik-baik saja tanpa si empu nama—yang, dia menambahkan, tidak akan mencapai masa jabatan kedua.
“Wolff sendiri cukup banyak menuliskan kecaman. Tentang Stephen Miller, yang awalnya sekadar magang hingga kemudian menjadi sosok berpengaruh, dia mencibir, ‘Orang itu seharusnya bisa menjadi tokoh intelektual, tetapi sangat jarang membaca.’ Kemudian, dia menunjukkan bagaimana hubungan Ivanka—yang bebal seperti batu, dalam kalimat Bannon—dengan ayahnya benar-benar transaksional: ‘Ini hanya bisnis. Membangun merek, kampanye kepresidenan, dan kini Gedung Putih—ini semua bisnis.’ Tidak ada orang di tubuh pemerintahan yang tampak sesuai dengan pekerjaan yang harus dilakukannya, dan ada contoh inkompetensi yang mencengangkan di banyak halaman dalam buku ini. Gedung Putih telah membantah dan mengecam laporan Wolff. Namun, bahkan jika hanya setengah akurat, buku ini menyajikan pemandangan mengerikan tentang komplotan yang sangat tidak kompeten dan tidak siap memimpin, serta tidak bisa berpikir jernih.”
—Kirkus Review


 

Nukilan

Alasan untuk menulis buku ini sangat jelas. Menyusul pelantikan Donald Trump pada 20 Januari 2017, Amerika Serikat diterjang pusaran badai politik paling dahsyat setidaknya sejak Watergate1. Sejak itu, saya mulai menyiapkan kisah ini dan mencoba melihat kehidupan Gedung Putih pada era Trump melalui mata sejumlah orang terdekatnya.

Mulanya naskah ini disusun sebagai laporan tentang 100 hari pertama pemerintahan Trump yang menjadi tolok ukur tradisional kinerja presiden. Namun, berbagai peristiwa bergulir tanpa jeda selama lebih dari 200 hari. Tabir tersingkap lewat langkah pertama Trump menunjuk purnawirawan jenderal John Kelly sebagai Kepala Staf Gedung Putih pada akhir Juli dan lengsernya Kepala Ahli Strategi Stephen K. Bannon 3 minggu berselang.

Kejadian yang saya uraikan di halaman selanjutnya berdasarkan percakapan dalam 18 bulan dengan Presiden, sebagian besar staf senior—yang beberapa di antaranya puluhan kali berbincang dengan saya—dan banyak orang lain yang mereka ajak bicara.

Wawancara pertama berjalan dengan lancar sebelum saya punya bayangan tentang Gedung Putih ala Trump, apalagi buku mengenai itu, pada pengujung Mei 2016 di rumah Trump di Beverly Hills. Saat itu, sang calon presiden melahap sekotak Häagen-Dazs sambil mengutarakan pendapatnya secara enteng dan sekenanya tentang berbagai topik. Sementara ajudannya; Hope Hicks, Corey Lewandowski, dan Jared Kushner mondar-mandir keluar-masuk ruangan. Percakapan dengan anggota tim kampanye berlanjut sampai Konvensi Partai Republik di Cleveland ketika nyaris tidak mungkin membayangkan kemenangan Trump. Tim kampanye ini kemudian pindah ke Trump Tower bersama Steve Bannon yang berlidah fasih—sebelum pemilihan, dia tampak aneh tetapi jenaka; setelah pemilihan, dia terlihat seperti pembawa mukjizat.

Tak lama setelah pelantikan 20 Januari, saya mulai menempati semacam tempat semipermanen di Sayap Barat Gedung Putih. Sejak itu, saya melakukan lebih dari dua ratus wawancara.

Kendati menjadikan permusuhan dengan pers sebagai kebijakan nyata, pemerintahan Trump lebih terbuka terhadap media dibandingkan dengan penguasa Gedung Putih lain pada masa kini. Mulanya, saya mengupayakan akses formal ke Gedung Putih dan ingin menjadi semacam lalat di dinding—yang diam-diam mengamati tanpa disadari kehadirannya. Presiden sendiri yang menganjurkan cara ini.

Akan tetapi, mengingat banyaknya bidang kerja di Gedung Putih era Trump yang tumpang tindih sejak hari pertama pemerintahan, tidak ada yang dapat mewujudkan keinginan itu. Meski begitu, tidak ada yang mengusir saya pergi. Saya pun lebih seperti penyusup tetap ketimbang tamu yang diundang—sesuatu yang sebenarnya agak mirip dengan lalat di dinding. Saya juga tak menerima ketentuan atau membuat perjanjian apa pun tentang apa yang boleh atau tidak boleh ditulis.

Banyak laporan mengenai peristiwa di Gedung Putih era Trump yang saling bertentangan satu sama lain. Tak sedikit yang, dalam gaya Trump, nyata-nyata dusta. Pertentangan itu dan komitmen yang serbalonggar terhadap kebenaran—jika bukan terhadap kenyataan itu sendiri—menjadi unsur dasar penyusunan buku ini.

Adakalanya saya membiarkan para tokoh menuturkan pandangan versinya sehingga pembaca dapat menilai mereka. Pada kesempatan lain, demi mengedepankan konsistensi laporan dan sumber yang tepercaya, saya mempertahankan kisah dari sudut pandang yang saya yakini kebenarannya. Sejumlah sumber berbicara kepada saya tentang “latar belakang mendalam” (deep background). Ini lazim dalam buku politik kontemporer dengan memungkinkan uraian peristiwa tanpa konteks utuh oleh saksi yang tidak disebutkan namanya.

Saya juga berpegang pada wawancara nirwarta (off-the-record). Ada kesepahaman bahwa sumber dapat memberikan kutipan langsung tanpa disebutkan identitasnya. Sumber lain berbicara kepada saya dengan kesepakatan materi wawancara tidak akan dipublikasikan hingga buku ini terbit. Di luar itu, sejumlah sumber berbicara secara blak-blakan.

Pada saat bersamaan, perlu dicatat sejumlah tantangan jurnalistik yang saya hadapi saat berurusan dengan pemerintahan Trump; banyak tantangan muncul akibat tidak ada prosedur resmi di Gedung Putih dan kurangnya pengalaman orang-orang di dalamnya.

Tantangan ini termasuk informasi nirwarta atau latar belakang mendalam yang kemudian diumbar begitu saja; sumber yang memberikan laporan secara rahasia tetapi setelah itu menyebarluaskannya seolah kerahasiaannya tak berlaku lagi setelah diungkapkan; ketidakacuhan dalam menentukan batasan terkait pemanfaatan hasil percakapan; pandangan narasumber yang sudah dikenal yang tersebar luas sehingga sangat aneh bila tidak menyebutkan mereka; dan membagikan salinan dokumen yang bisa dibilang rahasia atau dengan ceroboh menceritakan kembali percakapan pribadi atau informasi latar belakang. Dan, di setiap lembar halaman buku ini, pendapat Presiden yang ajek, penuh energi, dan tak terkendali—secara publik atau pribadi—disebarkan setiap hari; terkadang dengan cara pengucapan yang hampir mirip.

Karena bermacam alasan, hampir setiap orang yang saya hubungi—anggota staf senior Gedung Putih serta para pengamat—bersedia meluangkan waktu dan berusaha membantu untuk memahami uniknya kehidupan di Gedung Putih era Trump.

Pada akhirnya, yang saya saksikan dan yang buku ini ungkapkan adalah sekelompok orang yang berjuang, lewat cara masing-masing, untuk menyesuaikan diri dengan gaya kerja Donald Trump.

Saya berutang banyak pada mereka.***

 

Resensi

Beri ulasan produk ini

Spesifikasi Produk

SKU BS-009
ISBN 978-602-291-492-1
Berat 400 Gram
Dimensi (P/L/T) 16 Cm / 24 Cm/ 0 Cm
Halaman 356
Jenis Cover Soft Cover
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW
15%
DILAN DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990-NEW

Belum Ada Ulasan

Rp. 69.000 Rp. 58.650
Beli
Pidi Baiq
The Magical Balls
83%
The Magical Balls

Belum Ada Ulasan

Rp. 29.000 Rp. 5.000
Beli
KALISHA, DKK
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR
15%
NEVER FADE, TAKKAN PERNAH PUDAR

Belum Ada Ulasan

Rp. 98.500 Rp. 83.725
Beli
Alexandra Bracken
BAD ROMANCE
15%