Buku MENATA HATI SELEPAS… - Fitri Handayani,… | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

MENATA HATI SELEPAS LUKA-HC

    Deskripsi Singkat

    Aku pernah mengutuki diri, menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku. Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri, dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk. Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif. Cara yang dapat membuatku… Baca Selengkapnya...

    Rp 79.000 Rp 55.300
    -
    +

    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.

    Aku pernah mengutuki diri,

    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.


    Aku pernah mengutuki diri,
    menyalahkan putusan yang pernah kuambil, dan
    merasa bodoh tak dapat memprediksi akhir yang menyakitkanku.
    Penyesalan itu pula yang membuatku trauma, menutup diri,
    dan selalu memandang segala hal dari sudut pandang yang buruk.
    Sampai akhirnya, aku tersadar, bahwa ada cara yang lebih arif.
    Cara yang dapat membuatku mengikhlaskan masa lalu,
    cara yang dapat membuatku memaafkan diriku sendiri,
    dan, cara yang dapat membuatku berharap akan masa depan.
    Sebab aku sadar, hidupku masih berlanjut, aku harus menyambut,
    bukan menghindarinya.

     

    Tentang Fitri Handayani, dkk.

    Fitri Handayani, dkk.
    Fitri Handayani adalah nama lengkap dari sapaan hangat Rihan Azzahra yang lahir pada tanggal 30 April 1989. Telah menulis novel islami yang berjudul Tilawah Cinta Surah ArRahman, Buku non fiksi Alhamdulillah, Aku Diuji, 6 buku non fiksi, dan beberapa buku lagi yang sedang ditulis masih tahap progres. Bagi yang ingin bersilaturahim, sila hubungi saya di sosial media:
    twiter: @rihan_azzahra
    Instagram: rihan_azzahra
    Email: [email protected] 


    Eka Suryani sudah menulis secara duet dengan Ka Rihan dalam buku motivasi Islami bertajuk Sianida Tanpa Gafatar (Siap Nikah dari Sekarang Tanpa Gerakan Afa-afa Entar) yang telah diterbitkan oleh Quanta Elexmedia. Buku ini merupakan buku keduanya. Pengerjaannya sendiri dilakukan saat tengah berjibaku menimba ilmu di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Jakarta-batch 2. Semoga pengalamannya belajar di sana kembali dituangkan dalam bentuk buku. Tapi kalau penasaran dengan serba-serbi belajarnya di IIP, bisa kepoin blognya https://eccasallukirani.wordpress.com. 
    Nah, untuk bersilaturahim atau mau kirim kritikan atau saran, silahkan mengakses,
    Facebook: EccaSalluKirani
    Instagram: @eccasallukirani
    Twitter: @kirani_ecca 

    Nanda Destiyani adalah seorang Muslimah lulusan STMIK Antar Bangsa di bawah naungan yayasan Daarul Quran, dan aktif di komunitas dakwah PERAIS (Perkumpulan Remaja Islam). Ini merupakan debut pertamanya di dunia menulis. Menulis menurutnya merupakan ajang menambah ilmu, karena menulis bisa menjadi tahu apa yang tadinya tidak tahu. Mari bersilaturahim,
    Email: [email protected] 
    Facebook: Nanda Destiyani
    Instagram: @nandadestiyani    
    Twitter    : @nandadestiyani


    Keunggulan Buku

    1. Kemasan didesain dengan full color
    2. Temanya kekinian
    3. Isinya sangat cocok untuk remaja muslim masa kini

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU SB-306
    ISBN 978-602-5697-27-2
    Berat 280 Gram
    Dimensi (P/L/T) 15 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 132
    Jenis Cover Hard Cover