Buku #MUSLIMGIRL MUSLIMAH BICARA… - Amani Al-Khatahtbeh | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

#MUSLIMGIRL MUSLIMAH BICARA MELAWAN ISLAMOFOBIA

    Deskripsi Singkat

    “Jika kamu tidak dapat mengubah sesuatu dengan tanganmu, ubahlah dengan ucapanmu. Dan jika kamu tidak bisa mengubahnya dengan ucapanmu, milikilah keyakinan dalam hatimu untuk mengubahnya.” Selama berabad-abad, masyarakat dunia memiliki stereotip-stereotip buruk akan kaum Muslim. Anggapan ini diperburuk salah satunya oleh insiden 11 September yang menghancurkan gedung World Trade Center… Baca Selengkapnya...

    Rp 75.000 Rp 63.750
    -
    +

    “Jika kamu tidak dapat mengubah sesuatu dengan tanganmu,
    ubahlah dengan ucapanmu.
    Dan jika kamu tidak bisa mengubahnya dengan ucapanmu,
    milikilah keyakinan dalam hatimu untuk mengubahnya.”



    Selama berabad-abad, masyarakat dunia memiliki stereotip-stereotip buruk akan kaum Muslim. Anggapan ini diperburuk salah satunya oleh insiden 11 September yang menghancurkan gedung World Trade Center di Amerika. Kaum Muslim dituduh sebagai teroris, Muslimah diancam akan dilucuti jilbabnya, anak-anak menjadi korban bullying di sekolah.

    Amani adalah salah satu dari sedikit Muslimah Amerika yang berani angkat suara untuk mengubah stereotip-stereotip buruk itu. Lewat situs Muslimgirl yang dia buat bersama sahabatnya, Amani menyuarakan opini-opininya menentang Islamofobia, dan menyadarkan dunia akan permasalahan Muslim yang hampir tidak diliput media massa mainstream, seperti tragedi pembantaian di Sudan yang baru-baru ini terjadi. Amani adalah ikon, bukti bahwa tidak semua wanita Muslim terkekang, dan bisa berprestasi hingga diapresiasi di sepenjuru dunia.

    Kisah Amani menggugah pembaca untuk lebih menghargai perbedaan dan mengutamakan kemanusiaan, karena sesungguhnya itulah inti Islam.




    Ketika kau mendengar nama situs kami, Muslimgirl, untuk pertama kali, ada dua hal yang mungkin terjadi.

    Pertama, jika kau seorang Muslimah, kau akan berpikir, “Yes! Akhirnya! Ini aku banget!”
    Kedua, jika kau bukan Muslim, kau mungkin mengerutkan kening dan berpikir, “Duh, orang-orang ini lagi .…”
    Karena inilah kami hadir.

    Muslimgirl hadir untuk mematahkan asumsi-asumsi orang yang keliru seputar Islam; Asumsi-asumsi buruk yang disiratkan oleh banyak kanal berita mainstream, asumsi-asumsi yang mengompori ketidakpercayaan, rasisme, dan kebencian, serta asumsi-asumsi yang membungkam suara generasi muda Muslim.

    Muslimgirl menyuarakan opini-opini generasi muda Muslim yang selama ini terbungkam. Kami berupaya mengangkat posisi Muslimah di masyarakat dunia. Kami menggugah kesadaran akan pesan-pesan Al-Quran tentang kesetaraan gender dan prinsip kedamaian dalam Islam.

    Kami menulis artikel-artikel yang berkaitan dengan wanita muda modern di seluruh dunia dan membuka diskusi yang jujur tentang Islam dalam masyarakat sekarang ini. Dengan semangat persaudaraan, kami menjembatani kesenjangan karena perbedaan agama. Kami berjuang merintis jalan menuju sebuah dunia di mana setiap wanita dapat menegakkan kepala tanpa takut diserang gara-gara gender dan agamanya.





    PRAKATA


    “Aku merasa mengendalikan permainan ini sekarang,” kukatakan kepada Contessa Gayles ketika berada di toilet studio mewah Muslimgirl cabang Williamsburg di Brooklyn, New York. Aku menatap bayanganku di cermin rias berbingkai mengilap, melakukan rutinitas memakai riasan yang kutahu akan terlihat bagus di layar kaca, dan sudah menjadi kebiasaan keduaku dalam beberapa bulan terakhir ini. Kamera Contessa berputar, mengambil beberapa cuplikan gambar untuk wawancara CNN yang akan kami lakukan.
    Situs Muslimgirl meledak tahun lalu, kurang lebih seperti itulah istilahnya. Tugas kami adalah mengumandangkan suara para perempuan Muslim di media mainstream dan berhasil merebut banyak sekali perhatian audiensi baru. Kami mendapatkan permintaan cetak ulang, permintaan liputan dari media, dan kolom kami dimuat di headline utama yang dahulu hanya mimpi semata, dan karya kami dipro?lkan mulai oleh Teen Vogue hingga The New York Times. Pada Januari 2016, kami menjadi perusahaan Muslim pertama yang dimuat majalah Forbes dalam daftar 30 Under 30 (30 besar tokoh di bawah usia 30 tahun), dan aku menjadi perempuan berhijab pertama yang diakui daftar kategori di media tersebut. Di sinilah aku sekarang, menggoreskan pensil mata hitam pekat di sekeliling mataku dengan penuh presisi, membentuk mata kucing setajam pecahan dinding kaca lainnya yang ingin kami pecahkan. Mudah-mudahan.
    Chimamanda Ngozi Adichie telah memperingatkan kami akan bahaya kisah yang hanya disampaikan oleh satu individu, juga kisah pribadiku sendiri—yang istimewa sekaligus biasa, selayaknya kisah yang muncul di tengah kami, para Muslim di Barat. Namun, kisah ini juga sangat menarik bagi mereka yang melihat ke dalamnya hingga kapan pun—kisah yang membawa beban para gadis kecil yang memiliki semangat besar untuk mencari re?eksi diri di dalam lingkungan mereka.
    Aku sadar betul akan peranku sebagai wakil Muslimgirl saat ini. Aku merasa sangat puas karena kesempatan yang timbul dari Muslimgirl terwujud dari kerja keras dan pengorbananku selama ini. Namun, terasa sangat menyedihkan jika memikirkan bahwa kesempatan itu sebenarnya hanya datang karena menguntungkan mereka yang berada di luar sana, bukan kami. Mereka menyebut kami “bercita rasa”, dan ceritaku memang lebih mudah dicerna daripada cerita Abeer Qassim Al-Janabi1. Aku bisa berhari-hari bercerita tentang bagaimana dampak peristiwa 9/11 bagi kami, generasi muda Muslim, yang hidup di Barat, tetapi pengalaman kami tidak ada secuil pun dibandingkan dengan mereka yang menanggung akibat kebijakan luar negeri Amerika bagi dunia Muslim. Meskipun begitu, dikotomi gamblang tentang pengalaman kami hanya membalik sisi mata uang yang sama: sebuah ilustrasi tentang bagaimana fanatisme anti-Muslim terbentuk di berbagai lapisan masyarakat dengan cara yang berbeda. Hubungan hal-hal tersebut terkait secara politis. Dan aku melihat kami—Muslim yang memiliki kewarganegaraan negara pengekspor ke bijakan tersebut—sebagai penjaga gerbang, yang mewakili sebagian besar komunitas Muslim. Kami mempunyai tanggung jawab menggunakan hak istimewa ini, juga menggunakan sumber daya serta segala jalan yang ada, sebagai cara untuk memunculkan perubahan yang akan menderu sepanjang sejarah.
    Aku tidak begitu yakin dengan apa yang terjadi pada peristiwa 9/11. Namun, pada hari itu, aku cukup dewasa untuk merasakan pergeseran dunia yang tak lagi pada porosnya hingga mengubah segalanya, untuk selamanya. Aku mengingatnya dengan begitu jelas, karena waktu itu suasana sangat kacau dan berantakan. Untuk pertama kalinya sejak kakekku dari Yordania meninggal dunia, aku kembali diselimuti kesedihan mendalam, tetapi kali ini perasaan itu juga dialami oleh semua orang. Kenangan hari itu begitu kuat tertanam di dalam ingatanku. Selain karena hal itu luar biasa menakutkan—betapa kami tidak tahu apa yang akan menimpa setelahnya—juga karena aku percaya bahwa generasiku, generasi Muslim milenial2, suka atau tidak, telah dide?nisikan dari peristiwa itu.
    Kami menjadi komoditi yang direndahkan: Tubuh kami menjadi target politis dalam rangka mengembalikan Amerika pada era kebesarannya yang dahulu pernah ada. Aku hanya bisa berasumsi bahwa sedang terjadi rasisme terang-terangan dan superioritas kulit putih; pada saat yang sama, sosok ‘perempuan Muslim’ telah dicetak ulang, dijual, dan disusutkan agar bisa diterima oleh masyarakat bercita rasa naratif tinggi. Lalu, cerita itu dijual kembali kepada kami, hingga membuat kami melompat penuh semangat di atas pecahan sekat kaca diskriminatif lainnya.
    Aku masih ingat cerita tentang Cennet Doganay—seorang gadis Prancis yang menggunduli kepalanya pada 2004 untuk memprotes kebijakan pemerintah Prancis yang melarang pemakaian jilbab di sekolah—saat aku duduk di bangku sekolah menengah. Aku menyaksikan kisahnya melalui berita, seolah-olah itu embusan udara segar di antara semua berita utama yang menghantam-hantamku dengan pesan mengerikan tentang apa yang diperjuangkan para wanita Muslim. Bagiku yang berusia dua belas tahun pada saat itu, aku menyadari bahwa ternyata kehidupan di luar sana memang benar-benar ada. Ada gadis-gadis kecil yang merasa diserang dan tidak dihargai oleh masyarakatnya, seperti yang pernah aku alami. Tetapi, kali ini dia membela diri.

    Aku membayangkan seandainya saja aku mempunyai keberanian yang sama sepertinya.
    Abed Ayoub, Direktur Hukum Komite Anti-Diskriminasi Arab-Amerika, mengeluarkan pernyataan pada musim dingin 2015—hampir setelah Donald Trump mengumumkan pelarangan imigrasi Muslim—bahwa level Islamofobia pada musim dingin 2015 itu adalah yang terburuk sejak peristiwa 9/11. Hatiku perih. Tidak bisa kubayangkan bahwa generasi perempuan pada era Trump—era ketika generasi yang mendukung penuh Trump mungkin akan bermunculan dengan mengerikan—akan merasakan ketidakpastian abadi seperti yang aku dan teman-temanku alami. Bukan hanya ketidakpastian tentang pencarian identitas diri, melainkan juga tentang lingkungan sekitar mereka. Bagi kami sudah cukup. Siklus ini harus dihentikan—yang mana dalam kasus kami, ini lebih merupakan pertarungan di atas bukit tempat kami terperangkap, alih-alih sebuah siklus. Kami merangkak keluar menuju cahaya dengan menanggung beban di punggung, sementara kaki kami tertancap di dalam kubangan kotoran masa lalu. Kami berusaha mencapai puncak, tapi akhirnya tergelincir—bahkan malah dipukul jatuh—oleh kekuatan yang baru muncul, yang tidak terkendali, yang mengembalikan kami ke posisi semula, lalu kami dihujani cemoohan dan sorakan dari mereka yang menyaksikannya. Semua orang dapat melihat kejadian itu, dan kepuasan mereka dapat membunuh kami.
    Hal terbaik yang bisa kulakukan adalah berbicara atas namaku sendiri, benar-benar terbuka dan jujur tentang pengalaman pribadiku, serta berbagi cuplikan kehidupanku, yang aku yakin juga telah dilakukan oleh saudara-saudara kami yang menapaki koridor diaspora di wilayah berbahasa Inggris—kami tidak terlalu merasa kenal dengan kultur asal kami, sekaligus tidak benar-benar merasa menjadi orang Amerika.
    Kami sangat ingin orang-orang sungguh-sungguh mendengarkan kami. Kami sangat ingin mendengar suara kami sendiri di antara suara-suara kulit putih, sampai-sampai kami setuju untuk dikompromikan dan menulis kembali cerita kami untuk membuatnya lebih bercita rasa—agar cerita kami komersil dan menarik, pantas menjadi sajian berita utama. Kami menjual cerita yang layak mendapat perhatian Anda. Kami menyebutnya suatu permainan, karena lebih baik Anda mengonsumsi sejumlah berita yang mirip dengan kebenaran tentang kami, daripada mengonsumsi apa pun di luar sana, yang telah mereka sulap atas nama kami. Namun, semua itu tidak lagi berlaku saat ini.[]
     ________
    1 Tahun 2006, ketika Abeer berusia empat belas tahun, tentara Amerika memerkosa tubuh kecilnya setelah membunuh keluarganya di ruangan terpisah. Pada akhirnya, para tentara tersebut mengeksekusi mereka semua dan membakar mayatnya untuk menghilangkan jejak.—Peny.
    2 Generasi yang lahir sekitar tahun 1981-1997 dan berusia sekitar 20-36 tahun pada 2017.—Peny.

    Tentang Amani Al-Khatahtbeh

    Amani Al-Khatahtbeh

    Amani Al-Khatahtbeh adalah pendiri dan pimpinan redaksi Muslimgirl.com, situs wanita Muslim nomor satu di Amerika. Secara berkala, Amani memberikan komentar tentang isu-isu sosial, budaya, dan politik lewat CNN, Al Jazeera, dan BBC. Dia telah dimuat di The New York Times dan The Guardian. Temukan Amani di Twitter dan Instagram @amani dan baca tulisannya di Muslimgirl.com.




    Keunggulan Buku

    MUSLIMAH PERTAMA DALAM DAFTAR
    FORBES 30 UNDER 30 BIDANG MEDIA PADA 2015

    “Sangat meyakinkan.
    Kisah yang sungguh mencerahkan.”
    The New York Times Book Review

    Resensi

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU QA-41
    ISBN 978-602-402-152-8
    Berat 160 Gram
    Dimensi (P/L/T) 13 Cm / 21 Cm/ 0 Cm
    Halaman 192
    Jenis Cover Soft Cover