A Diary Of Genocide : Catatan Pembantaian Palestina 7 Oktober30 Desember 2023
Deskripsi
hari ini sama seperti kemarin, bombardir yang sama, berita yang sama, ketakutan yang sama, bau yang sama. Tak ada yang berubah. Kau hidup bersama pengeboman, suara ledakan, drone yang membayang-bayangi, dan dentuman sonik F-16. Ingar bingar ini seperti lagu tema sebuah film, hanya saja film itu adalah hidupmu. Kau harus menjalaninya .
****
Membaca catatan hari per hari ini, saya seperti tengah mengintip dari sebuah lubang kecil di tembok. Bagaimana hari demi hari dilalui oleh mereka yang hidup di Gaza, Palestinabukan sejak 7 Oktober 2023, melainkan sejak 1948.
Setiap selesai membaca catatan untuk satu hari, saya dihantui pertanyaan: besok apa yang akan dialami? Apa yang bisa kita lakukan? Membaca buku ini adalah sebuah kontribusi kecil untuk kita memahami apa yang terjadi dan mengambil peran menjadi suara yang menggulirkan narasi kebenaran dari sungai sampai laut, sampai Palestina bebas dan merdeka.
--Windy Ariestanty, editor & penggagas patjarmerah
Keunggulan:
- Ditulis oleh orang yang dekat dan paham kondisi terkini Palestina, serta mengalami langsung serangan Israel yang dimulai sejak 7 Oktober 2023, yakni Atef Abu Saif, seorang Menteri Kebudayaan Otoritas Palestina.
- Berisi catatan harian lengkap dan paling update terkait situasi Gaza.
- Pembaca dapat melihat dan merasakan kengerian genosida yang saat ini tengah dialami warga Palestina.
- Menggugah pembaca untuk bisa melihat secara mendalam terkait konflik yang terjadi di Palestina.
- Sebagian catatan harian penulis ini pernah dimuat di The New York Times, Washington Post, Le Monde, dan media besar lainnya.
- Ditulis dengan bahasa populer, mengalir, sehingga pembaca seperti sedang membaca novel realis.
Spesifikasi
| SKU | : | NA-259 |
| ISBN | : | 9786232424326 |
| Berat | : | 550 gram |
| Dimensi (P/L/T) | : | 15 cm/ 23 cm/ 2 cm |
| Halaman | : | 420 |
| Tahun Terbit | : | 2024 |
| Jenis Cover | : | Soft Cover |
Ulasan
Tidak mudah menyelesaikan buku ini, karena setiap catatan yang ditulis selalu membuat sesak dan tangis. Semua orang harus membaca ini, karena dengan membaca catatan pembaca dapat merasakan perasaan mencekam dan ketakutan yang dirasakan oleh warga Gaza, Palestina. Penulisan diary membuatnya lebih personal sehingga sulit untuk melewatkan setiap kisah yang ada.
Aku sempat berhenti lama karena tidak tahan membaca tragedi dan kekejian yang dilakukan oleh para zionist Israel. Mereka benar-benar terkutuk, tidak layak disebut manusia yang memiliki nurani. Setiap kali goyah dengan gerakan boikot, aku akan ingat betapa kejamnya Israel mengacak-acak Palestina.
Apa yang dialami mereka di Gaza mungkin terlihat jauh, tapi melalui diary ini seolah-olah aku menyaksikan di belakang rumah. Begitu dekat sampai rasanya ingin lari.


