Buku Filsafat Perdamaian - Fahruddin Faiz | Mizanstore.com

(0) KERANJANG

Rp 0
Rp 109,650
15% Rp 129,000

Deskripsi

Sinopsis

Filsafat Perdamaian mengajak pembaca menelusuri akar terdalam dari konflik dan kekerasan manusia, lalu menumbuhkan kembali benih-benih cinta dan keadilan sebagai dasar kehidupan bersama. Terinspirasi pemikiran tokoh-tokoh besar—seperti Eric Weil, Johan Galtung, Said Nursi, Martin Luther King Jr., dan Mahatma Gandhi—buku ini menampilkan refleksi filosofis yang jernih, tetapi tetap membumi.

Melalui gaya tutur yang hangat dan komunikatif, penulis menuntun kita memahami bahwa perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan perang, melainkan cara berpikir, bersikap, dan berelasi yang berakar pada kesadaran spiritual dan empati sosial.

Buku ini memadukan kedalaman teori dengan pengalaman nyata, membimbing pembaca dari tataran refleksi menuju tindakan nyata: dari peace-thinking ke peace-living. Sebuah bacaan penting bagi siapa pun yang ingin menemukan makna damai di tengah dunia yang gaduh—baik di ruang sosial maupun dalam diri sendiri.

 

“Buku ini hadir di waktu yang sangat tepat. Saat mesin perang lebih lantang, perdamaian perlu kembali disuarakan.
Buku ini menghidupkan kembali tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi dan rujukan pemikiran perdamaian.”
Irfan Amali, Cofounder PeaceGen dan Pendiri dan Pengasuh Peacesantren Welas Asih
 

ISI BUKU

 

Pengantar — 9


ERIC WEIL MEMAHAMI KEKERASAN — 19

Damai — 20
Latar Belakang Pemikiran Eric Weil — 22
Eric Weil sebagai Filsuf — 25
Apa Itu Kekerasan? — 28
Manusia Rasional dan Irasional — 33
Perdamaian Menurut Eric Weil — 39
Filsafat Perdamaian — 44
Langkah Melatih Kebijaksanaan — 48
Memahami Konteks — 53
Berfilsafat secara Praktis — 56
Dialog — 67
Berpikir Kritis — 69
Kekuatan Moral — 73
Penyakit Moral — 77
Kembali pada Akar Persoalan — 84
Sikap Anti-Kekerasan — 88

 

 

JOHAN GALTUNG MEMAHAMI KONFLIK — 93
Konsep Perdamaian Galtung — 94
Krisis Kekerasan — 100
Wajah Kekerasan — 104
Bentuk-Bentuk Kekerasan Struktural — 113
Pelajaran dari Abad Kekerasan — 116
Kekerasan Kultural — 120
Akar Kekerasan — 122
Konflik — 126
Manajemen Konflik — 132
Penyakit Peradaban — 139
Perdamaian — 146
Perdamaian Positif — 151
Strategi Membangun Perdamaian — 153
Pendidikan sebagai Fondasi — 157
Memperkuat Nilai-Nilai Agama — 159
Militer sebagai Instrumen — 159
Penutup — 160

 

SYAIKH BEDIUZZAMAN SAID NURSI DIRI DAN KEBERAGAMAN — 165
Pilar Utama Kemajuan — 167
Penyakit Manusia Modern — 172
Lalu, Apa Penawarnya? — 177
Konsep Perdamaian Menurut Said Nursi — 181
Prinsip Praktis Perdamaian — 185
Lawan Perdamaian — 201
Kritik terhadap Politik Praktis — 206
Kebencian dan Permusuhan — 208
Sikap Hidup — 211
Jangan Menyimpan Kebencian —  218
Kebencian Membahayakan Diri Sendiri — 220
Sebab Pertikaian — 221

MARTIN LUTHER KING Jr. LAKUKAN HAL KECIL DENGAN CARA YANG AGUNG — 227
Dasar Pemikiran — 229
Prinsip Pertama: Berani Bermimpi — 237
Prinsip Kedua: Pendidikan — 241
Prinsip Ketiga: Temukan Makna Hidup — 247
Prinsip Keempat: Jangan Kehilangan Harapan, Berbuat Baik Saja! — 253
Prinsip Kelima: Jangan Menyerah — 258  
Konsep Perdamaian Martin Luther King Jr. — 261
Konsep Non-Violence Martin Luther King Jr. — 273
Alasan Mengapa Non-Violence Harus Dipilih — 277
Mempraktikkan Sikap Non-Violence — 285
Jangan Membenci — 292

MAHATMA GANDHI AHIMSA (JANGAN MENYAKITI) — 305
Non-Violence ala Gandhi — 307
Ahimsa — 312
Alasan Gandhi Menolak Kekerasan — 321
Filsafat Ahimsa — 333
Tanpa Kekerasan ≠ Lemah — 344
Satyagraha — 347
Ahimsa dalam Relasi Sehari-hari — 358
Sawang Sinawang, Iri, dan Cara Berdamai dengan Hidup Sendiri — 362
Melawan Ketidakadilan Tanpa Merusak Diri Sendiri — 364
Sikap Kita terhadap Konflik Orang Lain — 367
Tidak Semua Konflik Harus Dimatikan — 374
Pertanyaan-Pertanyaan Relevan — 374
 

Lampiran — 379
Indeks — 389
Tentang Penulis — 395

 

 

 

PENGANTAR

Belajar Kembali tentang Hidup Damai

 

Wash-Shulhu khair
… dan perdamaian itu lebih baik.
—QS Al-Nisâ’ (4): 128

 

Hampir semua orang menginginkan hidup yang damai. Kita ingin bangun pagi tanpa rasa cemas, bekerja tanpa tekanan yang merusak batin, pulang ke rumah tanpa pertengkaran, dan menjalani hidup dengan hati yang tenang. Kita juga berharap masyarakat tempat kita tinggal terbebas dari kekerasan, kebencian, dan permusuhan. Dalam skala yang lebih besar, kita mendambakan dunia yang tidak dipenuhi perang, penindasan, dan penderitaan.

Bisa dikatakan, hidup damai adalah salah satu keinginan manusia paling tua sekaligus paling universal sepanjang sejarah. Manusia selalu membayangkan perdamaian sebagai bentuk kehidupan ideal. Dalam tradisi Yunani misalnya, banyak filsuf seperti Plato, Epicurus, maupun kaum Stoik, berbicara tentang kehidupan yang damai dan harmonis. Dalam agama-agama besar, perdamaian sering dipahami sebagai tanda kedekatan manusia dengan Yang Ilahi. Dalam tradisi Timur, damai adalah keselarasan antara manusia, sesama, dan semestanya.

Dalam tradisi nusantara pun, filosofi dan ideal hidup damai sering menjadi ukuran keberhasilan tata diri dan tata sosial. Di Jawa misalnya, dikenal filosofi adem-ayem. Adem-ayem dalam budaya Jawa bukan sekadar “tenang” dan “damai”, tetapi menunjuk pada keadaan batin dan sosial yang selaras, teduh, tidak gaduh, tidak meledak-ledak, dan tidak saling melukai. Ia adalah cita-cita hidup orang Jawa: hidup yang damai lahir-batin.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita sering mengukur kualitas hidup seseorang bukan dari seberapa kaya atau sukses dirinya, melainkan dari seberapa tenang dan damai kehidupannya.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa perdamaian adalah syarat dasar bagi kebahagiaan manusia. Tanpa damai, segala hal kehilangan maknanya. Kekayaan tidak bisa dinikmati ketika hati gelisah. Kekuasaan tidak memberi ketenteraman ketika relasi sosial dipenuhi kebencian. Kemajuan teknologi tidak membawa manfaat kalau hanya digunakan untuk memfasilitasi konflik antarsesama. Perdamaian memungkinkan manusia tumbuh, mencintai, berpikir jernih, dan menemukan arti hidupnya.

Perdamaian tidak sekadar tiadanya perang. Perdamaian tidak sekadar suasana yang tenang. Perdamaian adalah kondisi batin, tata sosial, dan orientasi hidup yang memungkinkan manusia berkembang secara utuh. Ia hadir dalam diri individu yang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, dalam masyarakat yang menjunjung keadilan, dan dalam kesadaran eksistensial manusia yang menerima hidup dengan penuh makna.

Pada level individual, perdamaian berarti kemampuan untuk menerima diri, dan mengelola emosi dan persepsi diri yang positif. Orang yang damai tidak berarti bebas dari masalah, tetapi mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan kendali diri.

Pada level sosial, perdamaian menuntut keadilan. Tidak mungkin ada perdamaian sejati ketika sebagian orang hidup dalam penindasan, diskriminasi, atau kemiskinan.

Pada level eksistensial, perdamaian menyentuh pertanyaan paling mendasar, “Bagaimana manusia hidup secara bermakna di tengah dunia yang rapuh, penuh konflik, dan tidak pasti ini?”

Buku ini membawa kita menelusuri gagasan lima tokoh penting yang memberikan kontribusi besar bagi pemikiran tentang perdamaian: Eric Weil, Johan Galtung, Said Nursi, Martin Luther King Jr., dan Mahatma Gandhi.

Kelima tokoh ini, meskipun berbeda latar belakang, memiliki satu kesamaan, yaitu keyakinan bahwa perdamaian bukan utopia yang tak mungkin diwujudkan, melainkan satu ideal yang harus diusahakan secara sadar.

Eric Weil melihat bahwa kekerasan lahir ketika manusia berhenti berpikir mendalam. Saat nalar ditinggalkan, yang tersisa hanyalah pemaksaan kehendak. Bagi Weil, perdamaian berakar pada rasionalitas. Dia menawarkan filsafat sebagai jalan perdamaian, dan mendayagunakan akal budi sebagai dasar budaya damai. Damai tercipta ketika manusia bersedia berpikir, berbicara, mendengarkan, dan memahami.

Johan Galtung, pelopor studi perdamaian modern, memperkenalkan gagasannya yang terkenal, yaitu perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif berarti tidak ada kekerasan langsung, seperti perang. Namun, itu belum cukup tanpa hadirnya perdamaian positif. Perdamaian positif berarti hadirnya keadilan sosial, kesejahteraan, dan struktur yang memungkinkan semua orang hidup bermartabat. Gagasan-gagasan Galtung membuat kita sadar bahwa membangun perdamaian berarti memperbaiki sistem, bukan hanya menghentikan konflik.

Syaikh Said Nursi menawarkan perspektif spiritualnya, bahwa perdamaian itu merupakan hakikat, kebutuhan, tanggung jawab, dan kekuatan hidup. Baginya, hidupnya perdamaian berarti lahirnya sikap saling menghormati, saling kasih sayang, terjauhkan dari keharaman, terjaganya keamanan, tertolaknya provokasi dan hasutan, serta mendahulukan ketaatan. Syaikh menegaskan, “Kami mengorbankan diri untuk mencintai dan tidak menyediakan sedikit pun ruang di hati kami untuk kebencian.”

Martin Luther King Jr. menyatakan bahwa perdamaian sejati hanya mungkin ketika manusia berani melawan ketidakadilan tanpa kehilangan kemanusiaannya. Dia membuktikan bahwa cinta bukan sekadar perasaan pribadi, melainkan energi sosial yang mampu mengubah sejarah. Melalui perjuangan tanpa kekerasan, dia menentang rasialisme dan ketidakadilan di Amerika Serikat. Bagi King, tujuan perdamaian bukan mengalahkan lawan, melainkan mengubahnya menjadi sahabat. Gagasannya mengajarkan bahwa keadilan dan cinta harus berjalan bersama.

Mahatma Gandhi menjadikan non-kekerasan atau ahimsa sebagai jalan hidup. Dia percaya bahwa kekuatan moral jauh lebih besar daripada kekuatan senjata. Melalui satyagraha (berpegang teguh pada kebenaran), Gandhi menunjukkan bahwa perubahan sosial dapat dicapai melalui disiplin diri, keberanian, dan kasih kepada sesama. Keistimewaan Gandhi terletak pada konsistensinya: perdamaian bukan hanya tujuan, melainkan juga cara. Kita tidak bisa menciptakan dunia yang damai dengan metode yang penuh kebencian.

Buku ini tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga menawarkan cara pandang baru tentang hidup. Dengan membaca pemikiran para tokoh tersebut, kita diajak menyadari bahwa perdamaian bukan urusan diplomat, aktivis, atau pemimpin dunia semata. Perdamaian berawal dari diri kita sendiri; dari cara kita berbicara, cara kita merespons perbedaan, keberanian untuk berdialog, kesediaan untuk mencintai tanpa syarat, juga komitmen untuk memperjuangkan keadilan.

Buku ini mengundang kita untuk ikut terlibat dalam wacana besar perdamaian. Tentu saja, bukan hanya sebagai pembaca, melainkan juga sebagai pelaku. Perdamaian tidak akan hadir dengan sendirinya. Ia harus dipikirkan, dirawat, dan diperjuangkan. Di tengah dunia yang semakin kompleks, membicarakan perdamaian bukanlah kemewahan. Ia adalah kebutuhan. Lebih dari itu, perdamaian adalah prasyarat paling mendasar bagi kebahagiaan manusia.

Semoga buku ini membantu kita semua untuk tidak hanya memahami perdamaian sebagai konsep, tetapi juga menjadikannya sebagai cara hidup. Sebab pada akhirnya, damai bukan hanya sesuatu yang kita cari di luar sana, namun sesuatu yang kita bangun mulai dari dalam diri kita.

Terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu terbitnya buku ini, khususnya kepada teman-teman Penerbit Mizan dan teman-teman Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta. Semoga ikhtiar yang kita awali bersama dengan niat yang baik pada akhirnya juga membuahkan hasil yang baik: kemanfaatan, kemaslahatan, dan keberkahan.

 

Yogyakarta, Mei 2026
Fahruddin Faiz

 

Spesifikasi

SKU  :  UB-527
ISBN  :  9786024414122
Berat  :  380 gram
Dimensi (P/L/T)  :  13 cm/ 21 cm/ 2 cm
Halaman  :  400
Tahun Terbit  :  2026
Jenis Cover  :  Soft Cover

Ulasan

Belum ada ulasan