Buku SECANGKIR KOPI JON… - Emha Ainun… | Mizanstore
Ketersediaan : Tersedia

SECANGKIR KOPI JON PAKIR (REPUBLISH-3)

    Deskripsi Singkat

    Ini kopi bukan sembarang kopi. Ini kopi bikinan koki bernama Jon Pakir alias “Jon yang Faqir”—seorang pakar kondang asal Jombang yang piawai dalam meracik gagasan dan merakit kata-kata. Kali ini, si Jon ingin menghibur pembaca sekaligus menyajikan secangkir kopi yang mat-matan untuk dinikmati kapan dan di mana saja. Ada kopi… Baca Selengkapnya...

    Rp 89.000 Rp 45.000
    -
    +

    Ini kopi bukan sembarang kopi. Ini kopi bikinan koki bernama Jon Pakir alias “Jon yang Faqir”—seorang pakar kondang asal Jombang yang piawai dalam meracik gagasan dan merakit kata-kata. Kali ini, si Jon ingin menghibur pembaca sekaligus menyajikan secangkir kopi yang mat-matan untuk dinikmati kapan dan di mana saja. Ada kopi “Modal untuk Pelit”, kopi “Amenangi Zaman Jahiliah”, kopi “Jurnalisme Absolut”, kopi “Syahadat Kiai Jangkung”, kopi “Sosiologi Munyuk”, kopi “Fastabiqul Fulus”, dan kopi-kopi lain yang ditanggung lebih sip ketimbang kopi nasgithel (panas, legi, lan kenthel).

    Dari sekitar seratus lima puluhan kopi yang tersaji dalam buku ini, sang koki mencoba membincangkan problem-problem masyarakat kelas bawah (dalam arti luas) yang banyak diobrolkan di gardu-gardu, di warung-warung, dan di tempat-tempat obrolan lain yang strategis. Lewat gaya tulis yang khas miliknya, sang koki kadang menjenakakan atau menyeriuskan topik-topik yang dibahasnya. Dan, ditambah dengan bahasanya yang sederhana, efisien, dan lugas, Secangkir Kopi Jon Pakir ini dapat “diminum” oleh siapa saja.


    Pengantar Penerbit
    Ini adalah kopi, eh, buku keempat racikan Emha yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Buku pertama, yang ditulis semasa ‘kabur kanginan’ di Eropa sana, berjudul Dari Pojok Sejarah (1985)—sebuah karya monumental baginya. Entah kapan lagi Emha dapat menulis ‘buku utuh’ semacam itu. Buku kedua adalah Suluk Pesisiran (1989), sebuah karya (terjemahan) berat yang memperlihatkan ketekunan dan kepiawaiannya dalam menggeluti bidang langka dan pelik—sastra sufi.* Buku ketiganya adalah Seribu Masjid, Satu Jumlahnya (1990), yang melaluinya, Emha mencatat tonggak penting sebagai perintis di bidangnya dalam melahirkan medium ungkap khas: “proisi” (campuran prosa dan puisi).


    Buku keempat, yang berjudul Secangkir Kopi Jon Pakir ini, lagi-lagi membawa aroma baru dalam khazanah kekaryaan Emha. Tanpa bermaksud ‘mengesampingkan’ karya-karyanya yang lain, baik yang berwujud puisi atau prosa (esai)**, dalam buku ini Emha tampak benar bergelut total dengan persoalan-persoalan hidup masyarakat kelas bawah, yang diungkapkan lewat ‘bahasa jelata’—sederhana (struktur-nya) dan jenaka (gayanya). Contohnya, dia tampak asyik sewaktu membincangkan ‘para calo’ di terminal-terminal bis di setiap kota. Dia hafal betul karakter Terminal Pulogadung Jakarta—yang disebutnya “kiblat budaya terminal Indonesia” (h. 243)—Pasar Metro Lampung, dan Joyoboyo Surabaya. Saking akrabnya dengan ‘budaya terminal’, akhirnya dia mengaku bahwa terminal adalah ‘universitas paling jujur’ baginya (h. 236).

    Keterlibatannya yang intens—yang, kadang, sampai membuatnya ketulo-tulo—dengan persoalan-persoalan tersebutlah yang membesarkannya menjadi ‘tokoh’ unik sekaligus ‘tahan banting’ …. “Saya adalah seorang pakar dalam menertawakan diri sendiri, sehingga terkadang saya menjadi masokis-komis yang rindu hantaman, rindu fitnah, rindu tantangan. Bahkan sering ada fitnah amat serius di koran kepada saya, saya ujo terus …,” ujarnya (h. 331).

    Kemudian, di samping itu, lewat buku ini kita juga akan bertemu dengan Emha yang ‘mengakrabi’ ayat-ayat Allah. Dia tampak sangat berhati-hati dalam memasuki ‘medan penting’ tersebut. Dalam menanggapi sebuah kritik yang dilontarkan kepadanya, Emha bilang, “… ‘tafsir seniman’ itu tidak ada. Yang saya lakukan hanyalah tafsir seorang ‘abdullah yang masih terbata-bata. Jadinya, Anda terkadang membaca ‘tafsir najibiyah’ yang thing blasur …” (h. 299). “So help me .… Kritiklah kapan saya keliru. Tapi juga perkenankan saya menjadi pengembara yang melacak ayat-ayat Allah yang tak hanya terdapat di Kitabullah, tapi juga di air sungai, di debu-debu galaksi, di ufuk-ufuk kejiwaan manusia, zaman, dan sejarah, serta di mana saja.” (h. 299). Kita pantas menunggu kemunculan karya Emha dalam bidang tafsir ini.

    Demikianlah, sedikit “pemanis” agar kopi, eh, buku ini dapat pembaca nikmati dengan enak. Selamat menikmati sajian Emha kali ini.

    Bandung, Ramadhan 1412,
    Hernowo

    * Atau—lebih tepat—sastra suluk, yaitu sastra dalam bentuk tembang macapat yang berisi wejangan, baik melalui perlambang maupun dengan penjabaran, perihal mistik atau tasawuf.
    ** Lihat halaman 396 buku ini.

    Tentang Emha Ainun Nadjib

    Emha Ainun Nadjib

    EMHA AINUN NADJIB, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur. Pernah meguru di Pondok Pesantren Gontor, dan “singgah” di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Emha Ainun Nadjib merupakan cendekiawan sekaligus budayawan yang piawai dalam menggagas dan menoreh katakata. Tulisan-tulisannya, baik esai, kolom, cerpen, dan puisi-puisinya banyak menghiasi pelbagai media cetak terkemuka. Pada 1980-an aktif mengikuti kegiatan kesenian internasional, seperti Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); serta Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Cukup banyak dari karya-karyanya, baik sajak maupun esai, yang telah dibukukan. Di antara sajak yang telah terbit, antara lain “M” Frustasi (1976), Sajak Sepanjang Jalan (1978), Syair Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), dan Cahaya Maha Cahaya (1991). Adapun kumpulan esainya yang telah diterbitkan oleh Bentang Pustaka, antara lain Arus Bawah (2014), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (2015 dan 2018), Gelandangan di Kampung Sendiri (2015 dan 2018), Sedang Tuhan pun Cemburu (2015 dan 2018), 99 untuk Tuhanku (2015), Istriku Seribu (2015), Kagum kepada Orang Indonesia (2015), Orang Maiyah (2015) Titik Nadir Demokrasi (2016), Tidak. Jibril Tidak Pensiun! (2016), Daur I: Anak Asuh Bernama Indonesia (2017), Daur II: Iblis Tidak Butuh Pengikut (2017), Daur III: Mencari Buah Simalakama (2017), Daur IV: Kapal Nuh Abad 21 (2017), Kiai Hologram (2018), Pemimpin yang Tuhan (2018), Markesot Belajar Ngaji (2019), Siapa Sebenarnya Markesot? (2019), Sinau Bareng Markesot (2019), Lockdown 309 Tahun (2020), dan Apa yang Benar Bukan Siapa yang Benar (2020). 




    Keunggulan Buku

    Penulis:
    Dikenal pula dengan panggilan Cak Nun adalah tokoh seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui tulisan-tulisannya. Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat. Kegiatan lengkapnya bisa ditemukan lewat https://www.caknun.com/

    Isi buku:
    - Tema yang sangat variatif dan intensitas yang berbeda-beda: budaya, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi. sastra, negara, 
    - Gaya bertutur yang memberikan keasyikan tersendiri.
    - Obrolan-obrolan bernas dan cerdas tentang permasalahan masyarakat.
    - Dibalut oleh canda (guyonan) yang segar serta logika orang-orang mbambung.
    - Mengajak kita memandang realitas, bukan sekadar menerima dan mengikuti.
    - Tema yang abadi.

    Kemasan menarik:
    - Terdiri dari 155 tulisan tentang budaya, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi. sastra, negara:
    Kenalkan, Saya Jon Pakir …. 
    Salahnya Tak Pakai Helm
    Menang Tak Tahu Kenapa, Kalah Tak Tahu Kenapa
    Si Kembar Bodoh Pintar
    In the Forest of White Wood
    Dalilnya Mas Doktor
    Simpenmaru
     “Agama” Sepak Bola
    The Community of Intercom
    Sesloki Samudra
    Warisan
    Aji Pancasona untuk Flu
    The Nation of Tempe
    Bilyar
    Nangsib
    Nglakoni
    Allah “In Absentia”
    PR dari Allah
    Slamet Pusarbumi
    Modal untuk Pelit
    Makhluk Gaib
    Mr. Sy
    Ketika Musim Porno Tiba
    Si Baik Hati
    Meneer Parmin
    Pop Corn
    Al-Jauharah
    Bank Aneh
    Filsafat Masa Kini
    Hantu Empat Huruf
    Gotong Royong Brazilia
    Christ kepada Muhammad
    Lahir
    Qurban dan Korban: Lain, Dong!
    Cemburu kepada Nabi
    Kiai Jembatan
    Pop Pesantren
    Azan dari Jauh
    Sang Pembegal
    Terkilir
    Kang Muhammad
    Merendahkan Diri
    Kangen
    Amenangi Zaman Jahiliah
    The Supreme Director
    Listrik Majapahit
    Fatwa Jenggot
    ll Principe Mas Kiai
    Nyata dan Tidak Aneh
    Nyet, Nyet, Mamusyka!
    Pencuri Sepatu Itu, Ya Allah!
    Tirani Bahasa
    5 Lautan di Langit 5 Lautan di Bumi
    Subjektivisme Bawakaraeng (1)
    Subjektivisme Bawakaraeng (2)
    Subjektivisme Bawakaraeng (3)
    Subjektivisme Bawakaraeng (4)
    Orang Membunuh, Orang Memerkosa
    Martabat
    Hujan Al-Mukarram
    Lintingan Halfzware
    Milikku, Milik dan Ku
    Prihatin Dulu, Prihatin Kemudian
    Go V’s Day!
    Musabaqah “T” Quran
    Apa Iya, Mas Doktor?
    Al-I’lan Minal-Unilever 
    Booo Kebo!
    Yogya-Solo 0-0
    Syaja’ah Picaliyah
    Cinta Kasih Lokal
    Ventilasi Porkas
    KTP
    Faktor Alam Mike Tyson
    Syuaib bin Perang 
    Tangis 40 Hari 40 Malam
    Mensyukuri Kedaulatan Rakyat
    Ayam di Lumbung Padi
    Negara yang Santun dan Tertib
    Jurnalisme Absolut
    Warung Jodoh
    Pecel Belut
    Fasisme Sehari-hari
    Hamil Teori Besar
    Losmen di Balik Losmen
    Dapur di Balik Dapur
    Lakon di Balik Lakon
    Sosiologi Munyuk (1)
    Sosiologi Munyuk (2)
    Sosiologi Munyuk (3)
    Sosiologi Munyuk (4)
    Sosiologi Munyuk (5)
    Kebudayaan Tapian Daya
    Monumen Hijau
    Pemberontakan Ibu-Ibu Sambu
    Sepi Juakah Engkau, Ya Allah?
    Pengamen Cilik Itu, Sukmanya …
    Dunia Ajibarang
    Pemilihan Lurah
    Beda Antara Sabun dan Sabun
    Jangan Banyak-Banyak Allahu Akbar
    Grup Tahlilan Sewaan
    Secangkir Kopi Dunia, Segelas Susu Surga
    Perahu Besar “Go Develop!”
    Jurus yang Tak Pernah Kalah
    Tetek-Bengek di Meja Ini-Itu
    Santri dan Kudis, Mahasiswa dan Golf
    Abdul Manan dan Abdul Wadud Arrombengy
    Oh Benten! No Wellen Ik Bodden Andersteken Versteken!
    Universitas Paling Jujur
    Natur Kekuasaan
    Satu Bis Seribu Jurusan
    Kutukan sang Dewa Tidur
    Profesor Hub dan Profesor Haq
    Syahadat Kiai Jangkung
    Sunan Kalijaga Naik Bis Antarkota
    Mereka Keceh Minyak di Jalan-Jalan
    Panjenenganipun Sir Lan Wolfgang
    Oplet Buntung, The Hero
    Secangkir Kopi Cinta 
    Ulama Bernyanyi
    Mutiara dalam Lumpur
    Guk Mit Pindah ke Jombang
    Turunan Pembunuh
    Bani Zahid van Kauman
    Kelak Tak Perlu Maaf Lagi, Semoga
    Ibunya si Kaltsum
    Allahu Akbar Kita
    Sejarah Allahu Akbar dalam Diri Kita
    Mujadalah
    Fastabiqul Fulûs
    Peranan Tuhan dalam Bulu Tangkis
    Secangkir Kopi Minnâ wa Winkum
    Ikrar Ibtidaiyah dan Ikrar Sarjana
    Tafsir Najibiyah yang Thing Blasur
    Nasabah yang Baik dan Benar
    Fatwa Tukang Becak
    Kemandirian
    Cipratan Bir Disko
    Kebiasaan untuk Hidup
    The Great Miranda
    Cita-Cita Suci “si Dia"
    Dam-Dam Jebol
    “Suara Malaikat” Robert Plant dan Abdul Basith
    Ngapurancang
    Negarigung Kebudayaan Dunia
    Sang Raja Sakit Jantung
    Tak Ada Air yang Tak Bening
    Dunia Alkisah
    Almarhum
    Tuhan Yang Mahajowo
    Masjid Syuhada yang Agung
    Yang Disebut Hubungan Baik
    Kesiagaan para Malaikat
    Hal Kepahitan Hidup

    - Sudah dicetak ulang lebih dari 10.000 eks. dalam tiga republish.

    Resensi

    Spesifikasi Produk

    SKU UC-107
    ISBN 978-602-441-117-6
    Berat 300 Gram
    Dimensi (P/L/T) 14 Cm / 20 Cm/ 0 Cm
    Halaman 348
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Emha Ainun Nadjib

















    Produk Rekomendasi